Adapun mazhab Ahmad ibn Hanbal memiliki pandangan yang mirip dengan mazhab Syafi’i, yaitu mewajibkan niat pada malam hari untuk puasa wajib seperti Ramadan.
Bagaimana Jika Lupa Melafalkan Niat?
Perlu dipahami bahwa yang menjadi syarat sah adalah niat di dalam hati, bukan bacaan tertentu. Jika seseorang sudah memiliki kesadaran bahwa ia akan berpuasa esok hari, misalnya karena memang sedang menjalankan ibadah Ramadan, maka secara umum hal itu sudah termasuk niat. Banyak ulama menjelaskan bahwa kebiasaan bangun sahur dengan kesadaran untuk berpuasa pun sudah menunjukkan adanya niat dalam hati.
Masalah muncul jika seseorang benar-benar tidak terlintas sedikit pun di dalam hatinya untuk berpuasa hingga terbit fajar. Dalam kondisi seperti itu, menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali, puasa hari tersebut tidak sah dan wajib diqadha. Namun jika lupa hanya sebatas tidak melafalkan niat secara lisan, sementara dalam hati sudah ada keinginan berpuasa, maka puasanya tetap sah.
•Pentingnya Memahami Perbedaan Pendapat
Baca Juga:Jangan Sampai Salah! Ini Waktu Terbaik Membayar Utang Puasa Ramadan karena Menstruasi Jadwal Ketat & Momen Krusial Turnamen Bulu Tangkis Klasik All England 2026!
Perbedaan pandangan antarmazhab merupakan bagian dari kekayaan khazanah keilmuan Islam. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan menunjukkan keluasan dan kemudahan dalam syariat. Umat Islam dianjurkan mengikuti pendapat mazhab yang diyakini atau yang menjadi pegangan mayoritas di wilayahnya.
Di Indonesia, yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi’i, umat Islam dianjurkan memperbarui niat setiap malam sebelum Subuh selama Ramadan. Biasanya niat dilafalkan setelah salat Tarawih atau sebelum tidur, agar tidak terlupa. Namun, jika seseorang terlupa melafalkannya tetapi yakin dalam hati ingin berpuasa, maka ia tidak perlu panik karena inti niat memang berada di dalam hati.
Kesimpulan
Secara umum, puasa tetap sah jika seseorang lupa melafalkan niat, selama di dalam hatinya sudah ada kesengajaan untuk berpuasa sebelum terbit fajar. Namun jika benar-benar tidak ada niat sama sekali hingga waktu Subuh tiba, maka menurut mayoritas ulama, puasa tersebut tidak sah dan harus diganti.
Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk membiasakan diri meneguhkan niat setiap malam selama Ramadan. Selain menjaga keabsahan ibadah, hal ini juga membantu menghadirkan kesadaran spiritual bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT.
