Lupa Baca Niat Puasa, Apakah Ibadahnya Tetap Sah? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Para Ulama

Puasa
Secara bahasa, niat berarti maksud atau kehendak hati untuk melakukan sesuatu. Foto: Halodoc/tangkap layar - radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Setiap memasuki bulan suci Ramadan, pertanyaan seputar sah atau tidaknya puasa kerap menjadi perbincangan.

Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah: bagaimana jika seseorang lupa membaca niat puasa? Apakah puasanya tetap sah atau harus diganti? Pertanyaan ini penting karena niat merupakan salah satu rukun utama dalam ibadah puasa.

Dalam ajaran Islam, niat memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Hal ini merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muhammad dan dicatat dalam kitab hadis sahih seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, yang menyatakan: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Hadis ini menjadi landasan utama bahwa setiap ibadah, termasuk puasa, harus diawali dengan niat.

Baca Juga:Jangan Sampai Salah! Ini Waktu Terbaik Membayar Utang Puasa Ramadan karena Menstruasi Jadwal Ketat & Momen Krusial Turnamen Bulu Tangkis Klasik All England 2026!

Pengertian Niat dalam Puasa

Secara bahasa, niat berarti maksud atau kehendak hati untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks ibadah, niat adalah kesengajaan dalam hati untuk menjalankan suatu amalan demi ketaatan kepada Allah SWT. Mayoritas ulama sepakat bahwa niat tempatnya di dalam hati, bukan di lisan. Melafalkan niat hanyalah bentuk membantu menghadirkan kesadaran hati, bukan syarat sahnya ibadah.

Dalam mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi’i, yang banyak dianut umat Islam di Indonesia, niat puasa Ramadan wajib dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar. Artinya, niat harus sudah ada di dalam hati sejak malam hari hingga sebelum waktu Subuh tiba. Jika seseorang benar-benar lupa berniat hingga masuk waktu Subuh, maka menurut mazhab ini puasanya tidak sah dan wajib diganti di hari lain.

Namun, pandangan berbeda datang dari mazhab Malik ibn Anas. Dalam mazhab Maliki, niat puasa Ramadan cukup dilakukan satu kali di awal bulan untuk keseluruhan puasa selama satu bulan penuh, selama tidak terputus oleh hal-hal yang membatalkan secara syar’i, seperti sakit parah atau bepergian jauh. Jadi, jika seseorang sudah berniat di awal Ramadan untuk berpuasa sebulan penuh, lalu suatu malam lupa melafalkan niat, puasanya tetap dianggap sah.

Sementara itu, dalam mazhab Abu Hanifa, niat puasa Ramadan boleh dilakukan hingga sebelum waktu zawal (tergelincir matahari), selama orang tersebut belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar. Artinya, jika seseorang lupa berniat di malam hari tetapi saat pagi ia teringat dan langsung berniat sebelum tengah hari serta belum makan atau minum, maka puasanya tetap sah menurut pendapat ini.

0 Komentar