Selain vitamin, terdapat zat lain yang sering disebut dalam konteks kesehatan mata, yaitu lutein dan zeaxanthin. Keduanya merupakan jenis karotenoid yang ditemukan dalam retina dan berperan menyaring cahaya biru berenergi tinggi. Paparan cahaya biru dari layar digital dalam jangka panjang dapat menyebabkan kelelahan mata dan berpotensi merusak retina. Sayuran hijau seperti kale dan bayam menjadi sumber alami lutein dan zeaxanthin.
Omega-3, khususnya DHA (docosahexaenoic acid), juga berkontribusi terhadap kesehatan mata. DHA merupakan komponen struktural utama retina. Asupan omega-3 yang cukup dikaitkan dengan penurunan risiko sindrom mata kering, kondisi yang sering menyebabkan sensasi perih dan penglihatan kabur sementara. Ikan laut seperti salmon, tuna, dan sarden dikenal kaya akan omega-3.
Meski vitamin dan nutrisi tersebut bermanfaat, para dokter mata mengingatkan pentingnya diagnosis yang tepat ketika mengalami mata kabur. Jika penyebabnya adalah gangguan refraksi seperti minus atau silinder, penggunaan kacamata atau lensa kontak tetap menjadi solusi utama. Dalam beberapa kasus, prosedur bedah refraktif seperti LASIK dapat menjadi pilihan sesuai rekomendasi dokter.
Baca Juga:Pinjam Rp300 Juta Lewat KUR BRI 2026, Bisa atau Tidak? Ini Hal Penting yang Wajib Dipahami Pelaku UMKMHarga Emas Hari Ini Naik-Turun Bikin Deg-degan! Investor Pantau Pergerakan Logam Mulia di Tengah Ketidakpastia
Mata kabur juga bisa menjadi gejala penyakit serius seperti diabetes atau hipertensi yang memengaruhi pembuluh darah retina. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin dianjurkan, terutama bagi individu dengan riwayat penyakit kronis. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Di pasaran, tersedia berbagai produk suplemen yang diklaim mampu mempertajam penglihatan. Masyarakat disarankan untuk tidak mudah tergiur promosi tanpa dasar ilmiah. Badan pengawas obat dan makanan di setiap negara biasanya mengatur peredaran suplemen untuk memastikan keamanan konsumsinya. Namun demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu.
Pola hidup sehat tetap menjadi fondasi utama menjaga kesehatan mata. Selain memperhatikan asupan nutrisi, istirahat yang cukup dan penerapan aturan 20-20-20 saat menggunakan perangkat digital dapat membantu mengurangi ketegangan mata. Aturan ini menyarankan agar setiap 20 menit menatap layar, seseorang melihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik.
Lingkungan kerja dengan pencahayaan yang baik juga berperan penting. Pencahayaan yang terlalu redup atau terlalu terang dapat memicu kelelahan mata. Selain itu, penggunaan kacamata pelindung dengan filter cahaya biru bisa menjadi pertimbangan bagi pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
