Seorang paralegal, kata Siska, dituntut mampu membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat, terutama dalam memahami persoalan hukum yang sering kali disampaikan secara sederhana dan tidak terstruktur.
“Oleh karena itu, kemampuan mendengarkan secara aktif menjadi kunci utama agar paralegal dapat menangkap secara utuh permasalahan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, paralegal juga perlu menyampaikan informasi hukum dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan tidak berbelit, sehingga masyarakat dapat memahami hak, kewajiban, serta langkah-langkah hukum yang dapat ditempuh. Dalam proses pendampingan, kata Siska, sikap empati, menghargai, dan tidak menghakimi sangat diperlukan agar masyarakat merasa nyaman dan percaya dalam menyampaikan persoalan yang dihadapinya.
Baca Juga:Bimtek Sertifikat Laik Higiene Dan Sanitasi – VideoPemdes Sumber Kidul Berbagi Takjil & Donor Darah – Video
Di sisi lain, kata dia, paralegal juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kerahasiaan informasi yang disampaikan oleh pihak yang didampingi sebagai bagian dari etika dalam pemberian bantuan hukum. Dengan mengedepankan komunikasi yang terbuka, empatik, dan informatif, paralegal diharapkan mampu membangun kepercayaan serta mempermudah masyarakat dalam mengakses keadilan dan perlindungan hukum.
“Melalui teknik komunikasi yang baik, peran paralegal tidak hanya sebatas memberikan informasi hukum, tetapi juga menjadi jembatan yang membantu masyarakat memahami proses hukum secara lebih mudah, manusiawi, dan berkeadilan,” paparnya.
Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan kedepannya terjalin kerjasama antara Pemdes dengan perguruan tinggi maupun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) (*)
