Untuk memahami malam itu, kita harus kembali jauh ke Montevideo.
Federico Santiago Valverde Dipetta lahir pada 22 Juli 1998 di Montevideo, Uruguay.
Sejak kecil ia dijuluki El Pajarito, burung kecil.
Ironis.
Karena sekarang ia dikenal sebagai El Halcón Sang Elang.
Ia bukan pemain yang tumbuh dengan hype seperti Mbappé. Bukan juga talenta viral seperti banyak wonderkid Eropa. Valverde adalah tipe pemain yang tidak glamor.
Ia berlari. Ia menekan. Ia mengejar bola yang bahkan sudah dianggap hilang.
Baca Juga:Real Madrid Hancurkan Manchester City 3-0 di Bernabéu, Hat-trick Valverde Bawa Los Blancos Menang TelakKrisis Cedera Real Madrid Jelang Duel Kontra Manchester City di Liga Champions
Karier profesionalnya dimulai di klub Uruguay Peñarol sebelum akhirnya direkrut oleh Real Madrid pada 2016. Awalnya ia hanya bagian dari tim Castilla.
Tidak ada karpet merah. Ia bahkan sempat dipinjamkan ke Deportivo La Coruña pada musim 2017–2018. Banyak pemain muda Madrid tenggelam dalam fase itu.
Valverde tidak. Ia kembali. Dan sejak saat itu, perlahan ia berubah menjadi salah satu pemain paling penting di skuad Madrid.
Pemain yang Tidak Bisa Dikotakkan Valverde adalah mimpi bagi setiap pelatih. Secara resmi ia adalah gelandang tengah.
Namun pada praktiknya, ia bisa bermain hampir di mana saja: Gelandang box-to-box, Sayap kanan, Gelandang bertahan, Bahkan bek kanan darurat ,Kecepatannya luar biasa. Tendangannya keras seperti peluru.
Dan etos kerjanya membuatnya menjadi mesin pressing yang tak pernah berhenti. Ia adalah tipe pemain yang tidak selalu muncul di highlight YouTube. Tetapi ketika ia tidak ada, tim terasa timpang.
Ironi untuk Manchester City
Pertandingan melawan Manchester City menjadi panggung yang sempurna untuk memperlihatkan semua kualitas itu. City bermain seperti biasanya: sabar, dominan, dan penuh kontrol.
Baca Juga:Bela Antonin Kinsky, Joe Hart: Bahkan Buffon Pernah SalahPenyidikan Dana Hibah KONI Majalengka: Ini Daftar Barang Bukti yang Disita dan Daftar Saksinya
Namun Real Madrid bermain seperti predator. Dan Valverde adalah pemburu utama. Ia tidak hanya mencetak tiga gol.
Ia juga: Menekan lini tengah City tanpa henti, Menarik bek keluar dari posisi, Membuka ruang bagi rekan-rekannya. Sementara Haaland berdiri menunggu bola, Valverde sudah berlari 40 meter mengejar bola berikutnya.
Ada sedikit ironi di situ. Manchester City adalah simbol sepak bola modern: taktik, struktur, dan penguasaan bola.
