Jejak Dakwah di Masjid Jagabayan – Video

Jejak Dakwah di Masjid Jagabayan
0 Komentar

Di tengah padatnya aktivitas perdagangan di kawasan Karanggetas, Kota Cirebon terdapat sebuah masjid kecil yang menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah Islam, Masjid Jagabayan, yang diyakini telah berdiri sejak abad ke-15. Ini menjadi saksi awal penyebaran dakwah di tanah Cirebon. Seperti apa jejak sejarah yang tersimpan di dalamnya? Berikut liputannya.

Di tengah hiruk pikuk kawasan perdagangan Jalan Karanggetas, Kota Cirebon, terdapat sebuah bangunan sederhana yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam.

Masjid Jagabaya, sebuah masjid tua yang diyakini telah berdiri sejak abad ke-15. Konon, pada awalnya tempat ini bukanlah sebuah masjid. Bangunan ini merupakan pos pengamanan yang didirikan oleh Pangeran Nalarasa, seorang utusan dari Kerajaan Pajajaran, yang bertugas menjaga wilayah dari berbagai ancaman.

Baca Juga:Isfalana Juara Kontes Genjring Ramadan RCTV 2026 – VideoWamen LH Tinjau Pengelolaan Sampah Pada Momen Mudik – Video

Namun perjalanan sejarah membawa perubahan. Setelah bertemu dengan Sunan Gunung Jati dan memeluk Islam, bangunan pengamanan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi tempat ibadah. Nama Jagabayan sendiri diyakini berasal dari kata jaga bahaya, yang berarti menjaga dari ancaman atau marabahaya.

Meski ukurannya tidak besar, hanya sekitar tujuh kali delapan meter, Masjid Jagabaya memiliki nilai sejarah yang tinggi. Tempat ini dipercaya pernah menjadi lokasi berkumpulnya para wali untuk bermusyawarah mengenai penyebaran agama Islam di wilayah Cirebon sebelum berdirinya Masjid Sang Cipta Rasa di kawasan keraton.

Di area masjid terdapat pula sebuah sumur tua yang hingga kini masih terjaga. Air dari sumur ini kerap diambil oleh masyarakat yang datang berziarah. Sebagian meyakini air tersebut membawa keberkahan dan digunakan untuk berbagai keperluan doa, seperti memohon keselamatan, kesehatan, hingga kelancaran usaha.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Jagabayan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang spiritual bagi masyarakat sekitar. Tradisi tawasul dan dzikir bersama masih rutin digelar, terutama pada malam Jumat Kliwon, sebagai bentuk pelestarian nilai religius yang telah diwariskan turun-temurun.

Di balik bangunannya yang sederhana, Masjid Jagabayan menjadi saksi perjalanan sejarah panjang penyebaran Islam di Cirebon. Sebuah pengingat, bahwa dari tempat yang kecil pernah lahir langkah besar dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman.

0 Komentar