Inggris, menyadari urgensi situasi ini, dilaporkan telah menggelar pertemuan virtual dengan sekitar 40 negara untuk membahas pembukaan kembali jalur Selat Hormuz. Sementara sumber lain menyebutkan pertemuan ini melibatkan 35 negara untuk mencari opsi memulihkan jalur aman melalui selat tersebut.
Ini menunjukkan betapa seriusnya dampak potensi penutupan Selat Hormuz terhadap ekonomi global dan ketersediaan energi. Pertanyaan ‘konflik Timur Tengah pengaruhi harga minyak’ kini bukan lagi asumsi, melainkan realitas yang sangat terasa.
Perkiraan Harga Minyak ke Depan: Akankah Tembus Rekor Baru?
Bank investasi terkemuka, JPMorgan Chase, telah menyampaikan proyeksi yang mengkhawatirkan. Mereka memprediksi bahwa harga minyak dunia hari ini bisa menembus kisaran 120-130 dolar AS per barel dalam waktu dekat jika kondisi geopolitik tidak membaik.
Baca Juga:Kapan Jadwal dan Siaran Langsung Pertandingan Persebaya vs Persita Super League 2026Prediksi Harga Emas Terjepit Pekan Depan, Imbas Minyak dan Suku Bunga
Lebih jauh lagi, jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga pertengahan Mei, harga minyak berpotensi melampaui 150 dolar AS per barel. Skenario ini akan membawa dampak resesi global yang parah, mengingat ketergantungan dunia pada minyak sebagai sumber energi utama.
Pergerakan harga Brent crude oil menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada 2 April 2026, Brent naik menjadi 109,05 USD/Bbl, mencatat kenaikan 7,80% dari hari sebelumnya. Selama sebulan terakhir hingga 2 April 2026, harga Brent telah melonjak 33,97%.
Jika dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu, harga Brent bahkan naik 55,47%.
Data historis ini mengindikasikan tekanan pasar yang sangat besar dan memberikan gambaran jelas mengenai perkiraan harga minyak ke depan yang cenderung bullish atau naik.
Dampak Perang Iran terhadap Minyak dan Ekonomi Global
Ancaman dari dampak perang Iran terhadap minyak adalah salah satu faktor paling krusial yang saat ini mendominasi sentimen pasar. Eskalasi konflik di wilayah Teluk berpotensi memicu gangguan pasokan yang lebih besar, bahkan berujung pada resesi global.
Para pengamat ekonomi khawatir bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan mendorong inflasi di berbagai negara, mengurangi daya beli masyarakat, dan pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. Sektor transportasi, manufaktur, dan logistik akan menjadi yang paling merasakan dampaknya.
Beberapa skenario dampak potensial yang perlu diwaspadai meliputi:
