RADARCIREBON.TV – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memastikan proses penyampaian informasi serta peringatan dini tsunami pascagempa magnitudo 7,6 di wilayah Sulawesi Utara telah berjalan sesuai standar operasional prosedur. Hal ini disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat koordinasi penanganan darurat yang digelar di Gedung Graha BNPB, Jakarta.
Gempa bumi terjadi pada Kamis, 2 April 2026 pukul 04.48 WIB dengan pusat di laut sekitar 132 kilometer barat laut Ternate, Maluku Utara, pada kedalaman 33 kilometer. Berdasarkan analisis BMKG, gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami dengan status Siaga di sejumlah wilayah seperti Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian Minahasa. Sementara itu, status Waspada berlaku untuk wilayah Kepulauan Sangihe dan sekitarnya.
Faisal menjelaskan bahwa BMKG menjalankan tahapan peringatan dini secara cepat dan terukur. Dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi, BMKG telah mengeluarkan peringatan awal yang mencakup parameter gempa, potensi tsunami, estimasi waktu tiba, serta tingkat ancaman.
Baca Juga:Gempa M 4,5 Guncang Sukabumi Jabar Berpusat di Laut93 Gempa Susulan Terjadi Usai Gempa M 7,6 Sulut Kekuatan Capai M 5,8
Ia menyebutkan, peringatan tahap kedua disampaikan kurang dari sepuluh menit setelah gempa, sedangkan pembaruan tahap ketiga dilakukan pada menit ke 30 hingga 60. Seluruh rangkaian informasi tersebut diakhiri maksimal 120 menit setelah estimasi waktu tiba pertama guna memberikan waktu bagi pihak terkait melakukan langkah darurat.
Pada kejadian ini, BMKG berhasil menyampaikan informasi awal hanya dalam waktu 2 menit 45 detik. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke pusat informasi regional dan global seperti ASEAN Earthquake Information Center serta Indian Ocean Tsunami Warning System.
Selain itu, BMKG juga memantau kondisi muka air laut melalui sembilan alat pengukur, termasuk perangkat milik Badan Informasi Geospasial. Hasil pemantauan menunjukkan kenaikan muka air laut hingga 0,75 meter.
Faisal menegaskan bahwa meskipun kenaikan tersebut relatif kecil, kondisi geografis wilayah kepulauan dan teluk dapat menyebabkan amplifikasi gelombang tsunami. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi dampak lanjutan.
Hingga pukul 12.00 WIB, BMKG mencatat 93 gempa susulan dengan magnitudo antara 2,8 hingga 5,8. Tujuh di antaranya dirasakan masyarakat. Gempa ini tergolong dangkal dan dipicu oleh aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik.
