Prediksi Harga Emas Terjepit Pekan Depan, Imbas Minyak dan Suku Bunga

Emas
Ilustrasi emas batangan (pexels)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Harga emas diperkirakan bergerak fluktuatif pada pekan depan, di tengah tekanan kenaikan harga minyak dan ekspektasi suku bunga, meski logam mulia ini masih mencatat kenaikan mingguan.

Harga emas mencatat kenaikan sekitar 3% sepanjang pekan ini dan bertahan di atas level US$ 4.600 per ons troi. Namun, reli tersebut tertahan setelah gagal menembus level resistensi US$ 4.800 per ons pada pertengahan pekan.

Dikutip dari Kitco, analis menilai pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam tarik-menarik sentimen, terutama akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga:Daftar Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 April 2026, Cek Rinciannya Sebelum Beli!Serbu Promo-nya Sekarang Juga! Katalog JSM Hypermart Terbaru 3-5 April 2026

Awalnya, pasar berharap konflik dapat segera mereda. Namun, seiring kenaikan harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel menjelang libur panjang Paskah, pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi konflik yang lebih berkepanjangan.

Kondisi ini turut memperkuat dolar AS dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok global, yang pada akhirnya membatasi kenaikan harga emas.

Analis FxPro Alex Kuptsikevich mengatakan, ketidakpastian geopolitik justru menjadi tekanan bagi emas dalam jangka pendek, terutama karena potensi respons bank sentral terhadap lonjakan inflasi. “Pasar mulai memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi akibat kenaikan harga energi. Ini menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujarnya.

Meski demikian, Kuptsikevich menilai tekanan tersebut bisa bersifat sementara. Jika harga emas turun ke kisaran US$ 4.200 per ons troi, tren kenaikan jangka menengah masih dinilai belum berubah. Namun, penembusan di bawah level tersebut dapat menjadi sinyal pembalikan tren naik tiga tahunan.

Fase Pemulihan

Sementara itu, analis Solomon Global Nick Cawley melihat, harga emas masih berada dalam fase pemulihan setelah sempat jatuh di bawah US$ 4.100 per ons troi pada bulan lalu. Menurut dia, faktor utama yang akan menggerakkan harga emas ke depan tetap konflik Iran.

Cawley menilai kekhawatiran inflasi akan bertahan dalam jangka pendek hingga menengah, seiring potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral. “Selama pasar melihat pengetatan ini hanya bersifat sementara dan suku bunga berpotensi turun kembali pada akhir tahun, tekanan terhadap emas akan terbatas,” katanya.

0 Komentar