RADARCIREBON.TV – Pasangan mata uang EUR/USD mengalami pelemahan tipis dan diperdagangkan di kisaran 1,1655 pada sesi awal perdagangan Asia, Kamis. Euro (EUR) tertekan terhadap Dolar AS (USD) seiring meningkatnya ketidakpastian terkait gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dilaporkan oleh Reuters, konflik di kawasan Timur Tengah masih terus berlanjut, termasuk di Lebanon. Pejabat Iran menilai kondisi tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan kurang dari satu hari. Situasi ini memicu keraguan terhadap kelanjutan negosiasi perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat.
Ketegangan yang terus berlangsung ini memberikan dukungan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven, yaitu mata uang yang cenderung dicari investor saat kondisi global tidak stabil.
Baca Juga:Inflasi Amerika Serikat Pada Mei 2024 Merespons positif Sebesar US$69.400 !254 Jatuh Korban Dalam Sehari, Serangan Israel Guncang Beirut dan Picu Kemarahan Dunia
Di sisi lain, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Maret yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 3,3%, dibandingkan sebelumnya 2,4%. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Jika data inflasi menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari perkiraan, maka Dolar AS berpotensi semakin menguat, yang dapat menekan pasangan EUR/USD dalam jangka pendek.
Sementara itu di Eropa, sikap hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB) berpotensi menahan pelemahan Euro. Beberapa pejabat ECB, termasuk Pierre Wunsch dan Dimitar Radev, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan April masih memungkinkan, meskipun sebagian besar memperkirakan langkah tersebut lebih realistis terjadi pada bulan Juni.
Para pelaku pasar juga telah meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter ECB. Saat ini, pasar memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, dengan peluang lebih dari 50% untuk kenaikan ketiga pada bulan Desember. Hal ini menjadi perubahan signifikan dibandingkan sebelum konflik terjadi, ketika pasar justru memperkirakan adanya penurunan suku bunga.
