RADARCIREBON.TV – Kinerja PT Fast Food Indonesia Tbk sebagai pengelola jaringan KFC di Indonesia masih berada dalam tekanan sepanjang tahun 2025. Meskipun perusahaan berhasil menekan tingkat kerugian dibandingkan tahun sebelumnya, tantangan finansial justru semakin kompleks, terutama dari sisi utang dan penyesuaian operasional.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian tahun 2025, perusahaan mencatat rugi bersih sebesar Rp369 miliar. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan kerugian Rp798 miliar pada 2024. Namun demikian, kondisi tersebut belum cukup untuk membawa kinerja perusahaan kembali ke jalur profitabilitas. Secara operasional, FAST masih membukukan rugi usaha sebesar Rp311 miliar, sementara pendapatan cenderung stagnan di kisaran Rp4,88 triliun.
Tekanan terbesar justru berasal dari struktur keuangan perusahaan. Utang bank jangka panjang mengalami lonjakan tajam menjadi Rp1,82 triliun, meningkat drastis dari sekitar Rp353 miliar pada tahun sebelumnya. Kondisi ini turut menjadi perhatian auditor, yang menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha perusahaan. Hal tersebut tercermin dari posisi liabilitas jangka pendek yang melebihi aset lancar hingga Rp1,3 triliun, serta akumulasi kerugian yang telah mencapai Rp507 miliar.
Baca Juga:Bernardo Silva Siap Tinggalkan Manchester City, Akhiri Perjalanan Gemilang Selama Sembilan TahunKFC Indonesia Rugi 557 Miliar, 47 Gerai Tutup! Ini Penyebabnya!
Di tengah situasi tersebut, perusahaan juga melakukan penyesuaian terhadap jaringan bisnisnya. Jumlah gerai KFC di Indonesia tercatat menurun menjadi 690 outlet pada akhir 2025, dari sebelumnya 715 outlet pada 2024. Penutupan sekitar 25 gerai ini menjadi bagian dari strategi efisiensi di tengah tekanan kinerja.
Meski demikian, perusahaan tetap melakukan investasi dalam skala besar. Arus kas untuk aktivitas investasi mencapai Rp1 triliun, yang sebagian besar dialokasikan untuk penambahan aset tetap serta renovasi gerai. Langkah ini menunjukkan upaya perusahaan untuk tetap menjaga daya saing di tengah kondisi pasar yang menantang.
Dari sisi likuiditas, perusahaan masih mencatat arus kas operasi positif sebesar Rp203 miliar, yang menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas bisnis inti masih berjalan. Kondisi ini mencerminkan dinamika kinerja perusahaan yang berusaha menyeimbangkan antara efisiensi, investasi, dan keberlangsungan operasional di tengah tekanan finansial.
