Agus pun mengakui hal tersebut. Ia menyebut bahwa pemerintah akan menelusuri akar permasalahan dan menyiapkan langkah-langkah komprehensif.
Mulai dari pendampingan korban, deteksi dini, hingga kebijakan preventif disebut akan disiapkan.
“Apakah nanti ada pendampingan korban, deteksi dini, dan langkah lain yang diambil pemerintah daerah, itu semua akan kita siapkan agar kejadian ini tidak terulang,” jelasnya.
Baca Juga:Hari Kartini 21 April 2026: Apakah Termasuk Libur Nasional? Ini PenjelasannyaSambut Hari Kartini, Langkah Tegas Wapres Gibran Perkuat Peran Perempuan di Era Modern
Pernyataan itu terdengar menjanjikan. Tapi publik kini semakin kritis: janji bukan lagi hal langka, yang langka adalah realisasi.
Di sisi lain, Agus juga menyinggung kondisi keuangan daerah. Peringatan Hari Kartini tahun ini digelar di tengah kebijakan efisiensi atau rasionalisasi anggaran.
Namun ia memastikan, keterbatasan tersebut tidak mengurangi kekhidmatan dalam mengenang jasa Kartini.
“Walaupun kita sedang dalam kondisi efisiensi, tidak menghilangkan kekhidmatan dalam mengenang jasa Kartini,” katanya.
Pernyataan ini menyiratkan satu hal penting: seremoni tetap dijaga. Tapi pertanyaannya, apakah substansi juga ikut diperjuangkan dengan semangat yang sama?
Karena sejarah mencatat, Kartini tidak pernah berjuang untuk seremoni. Ia berjuang untuk perubahan, perubahan cara pandang, perubahan sistem, perubahan nasib perempuan.
Dan perubahan seperti itu tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik dan konsistensi kebijakan.
Baca Juga:Live Update Menit 65, Dewa United Vs Persib 2-0, Gol Kontroversial Bayangi Laga PanasBikin Bangga!! Garuda Jaya U-10 Juara Liga Jabar 2026 Setelah Singkirkan Akademi Persib dan Bintang Rajawali
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan pesan kepada generasi muda perempuan. Ia mengajak mereka untuk tidak menyerah dalam meraih cita-cita.
“Jangan putus harapan, tetap semangat, dan bermimpi setinggi langit,” pesannya.
Pesan yang menginspirasi. Tapi juga menyisakan satu pertanyaan penting: apakah semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi?
Karena mimpi tidak hanya soal keberanian, tetapi juga soal akses, perlindungan, dan dukungan sistem.
Agus kemudian menyoroti fakta bahwa semakin banyak perempuan kini menduduki posisi strategis, mulai dari kuwu, camat, hingga kepala daerah. Bahkan di tingkat nasional, perempuan telah menunjukkan kapasitas kepemimpinannya.
Ia menyebut sosok Megawati Soekarnoputri sebagai bukti bahwa perempuan mampu memimpin negara.
Benar. Tapi satu contoh sukses tidak serta-merta menjadi cerminan realitas keseluruhan.
Masih banyak perempuan di level akar rumput yang berjuang dalam sunyi tanpa akses pendidikan memadai, tanpa perlindungan hukum yang kuat, dan tanpa ruang untuk bersuara.
