Situasi ini juga menjadi pelajaran penting bagi federasi sepak bola Indonesia untuk bergerak lebih proaktif. Pemantauan pemain keturunan perlu dilakukan lebih awal, termasuk membangun komunikasi yang kuat sebelum negara lain mengambil langkah lebih dulu. Dalam dunia sepak bola modern, perebutan talenta tidak hanya terjadi di level klub, tetapi juga antarnegara.
Jika Struijk benar-benar memilih Belanda, maka Indonesia harus segera mengalihkan fokus ke alternatif lain yang tidak kalah potensial. Masih banyak pemain diaspora yang bisa digali, meski mungkin tidak semua memiliki kualitas setara.
Pada akhirnya, ancaman kehilangan Pascal Struijk menjadi pengingat bahwa membangun tim nasional tidak hanya soal strategi di lapangan, tetapi juga kecerdikan dalam membaca peluang di luar lapangan. Indonesia harus bergerak cepat, cerdas, dan berani jika ingin terus bersaing di level tertinggi sepak bola Asia.
