Rupiah Anjlok ke Rp 17.675 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah dan Selat Hormuz Jadi Biang Kerok

Ilustrasi rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah ke level Rp 17.675 pada perdagangan Senin (18/5/2026) Foto: pinterest
0 Komentar

Utang Pemerintah Meningkat

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan posisi utang pemerintah hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun. Angka ini naik dibandingkan dengan akhir 2025 yang sebesar Rp 9.637,9 triliun.

Rasio utang terhadap PDB turut meningkat menjadi 40,75 persen dari 39,86 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menjadi catatan tersendiri bagi perekonomian Indonesia.

Tak hanya rupiah, Ibrahim juga memperkirakan pasar saham domestik masih akan bergerak melemah. Investor disebut masih menunggu pengumuman dari lembaga provider global, FTSE Russell.

Baca Juga:Rupiah Kian Melemah, Harga Laptop dan HP di Indonesia Terancam NaikJejak Pelemahan Rupiah dari Era Soeharto hingga Prabowo, Pernah Sentuh Rp17.600 per Dolar AS

Lembaga tersebut bakal mendepak saham asal Indonesia yang masuk daftar saham konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dalam tinjauan indeks Juni 2026.

Sentimen rebalancing FTSE Russell, termasuk Morgan Stanley Capital International (MSCI), tetap menekan pasar domestik.

Pernyataan Prabowo Jadi Sorotan

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pelemahan rupiah juga ikut menjadi sorotan. Ia menyebut pelemahan rupiah tidak berdampak terhadap ekonomi desa karena masyarakat desa tidak mengenal dollar AS.

Ibrahim menilai pernyataan tersebut justru memicu reaksi negatif dari pelaku pasar alias investor. Setiap pernyataan Presiden akan selalu diperhatikan dan direspons oleh pasar keuangan.

Karena itu, pemerintah diminta lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait kondisi ekonomi saat ini. Pasar sangat sensitif terhadap pernyataan pejabat negara.

Meski demikian, Ibrahim mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 cukup menopang pasar. Namun sentimen eksternal yang begitu kuat masih membayangi.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan pemerintah.

0 Komentar