RADARCIREBON.TV – Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami pelemahan tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda tertekan 78 poin atau 0,44 persen ke level Rp 17.675 per dollar Amerika Serikat (AS).
Ini menjadi salah satu level terendah rupiah dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan eksternal masih menjadi penyebab utama.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi biang kerok utama. Terutama yang terkait dengan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Baca Juga:Rupiah Kian Melemah, Harga Laptop dan HP di Indonesia Terancam NaikJejak Pelemahan Rupiah dari Era Soeharto hingga Prabowo, Pernah Sentuh Rp17.600 per Dolar AS
Insiden penyitaan kapal China oleh Iran saat pelaksanaan KTT AS dan China dinilai menambah ketidakpastian global. Pasar khawatir terhadap stabilitas jalur energi dunia.
Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri, kata Ibrahim.
Selain itu, konflik militer Israel juga dinilai semakin memperburuk situasi geopolitik. Israel disebut masih terus melakukan serangan ke wilayah Lebanon Selatan dan operasi terhadap Hamas untuk menyasar pimpinan kelompok tersebut.
Kondisi ini mendorong penguatan dollar AS sebagai aset safe haven global. Investor lebih memilih menyimpan dana dalam dollar daripada mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Harga Minyak Melambung, Impor Indonesia Terancam
Bersamaan dengan itu, harga minyak mentah dunia juga diperkirakan terus meningkat. Ini menambah tekanan terhadap ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Kenaikan harga minyak akan berdampak langsung terhadap kebutuhan impor Indonesia. Pasalnya, impor minyak Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta barrel per hari. Ini membutuhkan pasokan dollar AS dalam jumlah besar.
Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel, papar Ibrahim.
Baca Juga:Link Live Streaming Arsenal vs Burnley Dini Hari, Kick-off 02.00 WIBPrediksi Susunan Pemain Arsenal vs Burnley: Odegaard Kembali Starter, Gyokeres Jadi Ujung Tombak
Selain kebutuhan impor energi, tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor internal. Pembagian dividen perusahaan dan jatuh tempo utang luar negeri membutuhkan valuta asing.
Di saat yang sama, sebagian masyarakat dinilai mulai mengalihkan simpanan dari rupiah ke mata uang asing. Ini semakin memperlemah posisi rupiah.
