Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Lonjakan Yield Obligasi AS dan Konflik Iran

emas dunia
emas dunia tertahan kenaikan suku bunga AS foto : pinterest
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Harga emas dunia kembali menguat tipis pada perdagangan Selasa pagi, 19 Mei 2026. Meski kenaikannya belum terlalu signifikan, logam mulia masih bertahan di zona hijau di tengah tekanan dari naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) serta lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran yang terus memanas.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas berada di level US$ 4.568,21 per ons atau naik sekitar 0,03 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Sebelumnya, emas spot juga ditutup menguat 0,2 persen pada Senin setelah sempat mengalami tekanan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan emas kali ini terutama ditopang oleh pelemahan dolar AS. Indeks dolar tercatat turun sekitar 0,3 persen terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor global yang menggunakan mata uang selain dolar AS.

Baca Juga:Harga Emas Antam Hari Ini 19 Mei 2026: Logam Mulia 1 Gram Turun Jadi Rp2.789.000Indonesia–Arab Saudi Perkuat Kerja Sama Halal: Dorong Ekosistem Industri Halal Global

Namun, penguatan emas masih tertahan oleh lonjakan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang kini mencapai level tertinggi sejak Februari 2025. Situasi ini membuat sebagian investor mulai mengalihkan dana mereka ke instrumen berbunga tinggi dibanding aset safe haven seperti emas.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai pelemahan dolar memang membantu menopang harga emas dalam jangka pendek. Akan tetapi, kenaikan yield obligasi tetap menjadi hambatan terbesar bagi logam mulia saat ini.

Menurutnya, selama imbal hasil obligasi terus meningkat, ruang penguatan emas akan terbatas. Investor cenderung memilih aset yang memberikan keuntungan bunga lebih tinggi dibanding emas yang tidak menghasilkan imbal hasil pasif.

Di sisi lain, pasar global juga masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan negara-negara Barat. Konflik yang terus memanas membuat harga minyak dunia melonjak sekitar 2 persen dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat. Jika inflasi terus naik, bank sentral AS atau Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Situasi itu menjadi dilema bagi pasar emas. Di satu sisi, emas tetap dicari sebagai aset perlindungan saat kondisi global tidak stabil. Namun di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi membuat daya tarik emas sedikit berkurang.

0 Komentar