RADARCIREBON.TV – Harga perak dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 2 persen. Koreksi ini dipicu meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah United States serta kekhawatiran pasar terhadap arah suku bunga global.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga perak berada di kisaran US$ 77,58 per ons atau turun sekitar 0,18 persen dibanding penutupan sebelumnya. Meski terkoreksi, posisi perak masih bertahan di area tinggi setelah reli kuat pada awal pekan.
Kondisi pasar saat ini memperlihatkan pertarungan dua sentimen besar. Di satu sisi, pelemahan dolar AS mendukung kenaikan harga logam mulia. Namun di sisi lain, lonjakan yield obligasi AS membuat investor mulai memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih menguntungkan.
Baca Juga:Update Harga Perak dan Emas Antam Hari Ini, Selisihnya Bikin Investor Kaget, Cek Daftarnya!Pengusaha Khawatir Rupiah Tembus Rp17.600, Ancaman PHK Massal Mengintai Industri dan UMKM
Yield Obligasi AS Jadi Tekanan Utama
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi perhatian utama pasar. Yield diketahui menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025, memicu perubahan arah investasi global.
Dalam kondisi seperti ini, aset safe haven seperti perak dan emas biasanya menghadapi tekanan karena investor lebih tertarik pada instrumen berbunga tinggi.
Fenomena tersebut ibarat “magnet ganda” di pasar keuangan. Perak ditarik naik oleh pelemahan dolar, tetapi pada saat bersamaan ditarik turun oleh kenaikan yield obligasi.
Akibatnya, pergerakan harga menjadi sangat sensitif terhadap data ekonomi dan kebijakan bank sentral AS.
Harga Minyak Dunia Ikut Pengaruhi Pasar Logam
Selain faktor obligasi, lonjakan harga minyak dunia juga ikut memengaruhi sentimen perdagangan logam mulia.
Harga minyak mentah global naik sekitar 2 persen akibat memanasnya konflik terkait Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan energi internasional.
Ketika harga energi melonjak, pasar mulai khawatir inflasi kembali meningkat. Situasi ini bisa membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, kondisi yang biasanya kurang menguntungkan bagi logam mulia.
Baca Juga:UMKM Siapkan Aturan Baru Biaya E-Commerce, Marketplace Wajib Lebih Transparan dan Stabil
Platinum dan Paladium Justru Menguat
Berbeda dengan perak, beberapa logam mulia lain justru masih melanjutkan penguatan.
Harga platinum tercatat naik sekitar 0,29 persen ke level US$ 1.982 per ons. Sementara paladium menguat 0,34 persen menjadi sekitar US$ 1.421 per ons.
