Peneliti Indonesia Diduga Palsukan Riset Demi “Plesiran” ke Eropa, Nama Akademisi RI Jadi Sorotan

Peneliti
Ilustrasi penelitian foto : pexels
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Dunia akademik Indonesia tengah diguncang isu panas usai muncul dugaan penelitian palsu yang dibawa sejumlah peserta asal Indonesia dalam konferensi internasional di Denmark. Kasus ini ramai dibicarakan di media sosial karena disebut melibatkan manipulasi identitas hingga penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk membuat riset instan demi memperoleh travel grant ke Eropa.

Konferensi ISPPD 2026 Jadi Sorotan

Kasus ini mencuat dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, pada 17 hingga 21 Mei 2026. Konferensi tersebut dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara dan menjadi forum ilmiah bergengsi di bidang penyakit pneumonia.

Namun alih-alih membawa nama baik Indonesia, beberapa peserta justru diduga melakukan pemalsuan identitas serta mempresentasikan penelitian yang keasliannya dipertanyakan.

Baca Juga:Bukan Sekadar Hobi: Penelitian Ungkap Waktu Paling Tepat untuk Memancing, Nelayan & Pemancing Newbie Wajib TauPeneliti Temukan Kunci Awet Muda: Sel Pikun Bisa Dibalikan dengan Protein Ini

Awal Mula Dugaan Penelitian Palsu Terbongkar

Dugaan ini pertama kali diungkap oleh epidemiolog Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat. Ia merasa curiga karena menemukan pemateri dengan afiliasi Indonesia yang tidak dikenal dalam jaringan peneliti pneumonia nasional.

Menurutnya, komunitas peneliti pneumonia di Indonesia relatif kecil sehingga nama-nama penelitinya biasanya saling mengenal melalui jurnal maupun konferensi internasional.

Kecurigaan semakin besar ketika seorang peserta disebut menggunakan identitas berbeda dalam dua sesi presentasi berbeda di konferensi yang sama.

Diduga Gunakan Dua Nama Berbeda

Dalam laporan yang viral di media sosial, seorang perempuan disebut tampil menggunakan nama “Riana Dwi Kurniawati” pada satu sesi presentasi. Namun beberapa menit kemudian, orang yang sama kembali muncul di sesi berbeda dengan identitas “Dimas Fajar Prasetyo”.

Tak hanya identitas yang berubah, judul penelitian yang dipresentasikan juga berbeda. Dugaan ini memicu pertanyaan besar mengenai validitas data dan keaslian riset yang dibawa.

Beberapa kejanggalan yang disorot:

  • Menggunakan nama berbeda di forum ilmiah internasional
  • Presentasi riset dengan tema dan data berbeda dalam waktu singkat
  • Klaim pengambilan data di Peru tanpa kolaborator lokal
  • Dugaan penggunaan AI untuk membuat paper ilmiah
  • Diduga mengejar travel grant konferensi luar negeri
  • Dugaan AI Dipakai untuk Membuat Riset Instan
0 Komentar