Sementara itu, Brasil dan Portugal berada di baris berikutnya dengan peluang masing-masing sebesar 19%:
- Brasil: Diunggulkan berkat keseimbangan taktis yang dibawa pelatih kawakan Carlo Ancelotti, ditambah daya dobrak pemain sayap lincah seperti Vinícius Júnior dan Raphinha.
- Portugal: Mendapat nilai tinggi berkat mewahnya lini tengah mereka yang diisi trio Bernardo Silva, Bruno Fernandes, dan Vitinha, serta ketangguhan Diogo Costa di bawah mistar gawang.
Lalu bagaimana dengan Inggris? Tiga Singa harus puas berada di posisi buncit dalam daftar kandidat utama dengan peluang hanya 12%.
Meski punya nama-nama mentereng seperti Harry Kane dan Declan Rice, data AI mendeteksi bahwa tingkat kebugaran fisik skuad Inggris secara keseluruhan masih kalah saing jika dibandingkan dengan negara rival lainnya.
Baca Juga:4 HP Murah Terbaik untuk Driver Ojol 2026, Harga Rp1 Jutaan Baterai Awet SeharianRonaldo Beri Peringatan Keras ke Portugal Jelang Piala Dunia 2026: Fokus Kongo Dulu!
Tetap Ada Faktor Manusia yang Tak Bisa Dibaca Mesin
Meski teknologi ini terlihat sangat meyakinkan, pihak AVISIA buru-buru memberikan catatan penting. Secanggih apa pun algoritma komputer, AI tetap memiliki keterbatasan besar di dunia nyata.
Mesin bisa menghitung statistik dan tren di atas lapangan, namun mereka tidak akan pernah bisa membaca emosi manusia.
Faktor-faktor non-teknis seperti kekuatan mental saat adu penalti, drama ruang ganti, kepemimpinan kapten di saat kritis, hingga magis keberuntungan di menit-menit akhir pertandingan tetap menjadi misteri yang hanya bisa terjawab di lapangan hijau.
