PBB Dorong Industri AI Gunakan Energi Terbarukan Paling Lambat 2030

Langkah ini dianggap penting untuk mengurangi dampak lingkungan dari pertumbuhan industri kecerdasan buatan.
src-img : ofc.ig @antonioguterres
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus melaju pesat di berbagai sektor. Namun di balik kemajuan tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan pelestarian lingkungan.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan agar perusahaan-perusahaan yang mengembangkan teknologi AI lebih terbuka mengenai dampak lingkungan yang dihasilkan dari operasional sistem mereka. Seruan tersebut disampaikan dalam agenda London Climate Action Week.

Menurut Guterres, transparansi menjadi langkah penting untuk memastikan perkembangan AI tetap sejalan dengan upaya global dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga:Google Ubah Sistem Pembayaran Play Store Mulai 30 Juni 2026, Pengembang Dapat Gunakan Metode Pembayaran EkstKecerdasan Buatan Atau Generative Artificial iIntelligence Akan Di Keluarkan Peursahan Asal Cina Ini.

PBB Minta Perusahaan AI Ungkap Dampak Lingkungan

PBB menilai perusahaan AI perlu secara terbuka mengukur dan melaporkan berbagai dampak yang muncul dari operasional teknologi yang mereka jalankan.

Dampak tersebut mencakup emisi karbon, penggunaan air, hingga pemanfaatan lahan yang dibutuhkan untuk mendukung sistem kecerdasan buatan.

Transparansi Jadi Sorotan Utama

Antonio Guterres menekankan bahwa seluruh perusahaan AI berskala besar perlu memiliki komitmen untuk mengungkap jejak lingkungan dari aktivitas mereka.

Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dapat memahami dampak nyata dari perkembangan teknologi AI yang saat ini semakin luas digunakan.

Selain itu, keterbukaan informasi juga dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan yang mendukung inovasi sekaligus melindungi lingkungan.

Kebutuhan Energi Pusat Data Jadi Perhatian

Salah satu fokus perhatian PBB adalah tingginya kebutuhan energi yang digunakan oleh pusat data atau data center yang mendukung operasional teknologi AI.

Seiring meningkatnya penggunaan AI, kebutuhan komputasi juga terus bertambah. Kondisi ini membuat pusat data memerlukan sumber daya yang besar untuk menjalankan berbagai sistem dan layanan berbasis kecerdasan buatan.

Baca Juga:Prabowo: MBG Penting untuk Penuhi Gizi Anak dan Jaga Ketahanan Pangan IndonesiaGempa M 7,1 Guncang Venezuela, Kemenlu Pastikan Seluruh WNI dalam Kondisi Aman

Emisi Karbon dan Penggunaan Air Perlu Dipantau

Selain konsumsi energi, PBB juga menyoroti penggunaan air dan lahan yang berkaitan dengan pengoperasian pusat data.

Karena itu, perusahaan AI didorong untuk melakukan pengukuran secara menyeluruh terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan, termasuk:

  • Emisi karbon dari operasional sistem AI.
  • Penggunaan air untuk mendukung infrastruktur pusat data.
  • Pemanfaatan lahan yang digunakan dalam pengembangan fasilitas teknologi.
  • Konsumsi energi yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan AI.
0 Komentar