RADARCIREBON.TV – Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan. Dalam sepekan terakhir, nilai aset kripto terbesar di dunia tersebut terkoreksi 4,28% dan diperdagangkan di kisaran US$59.800, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Tekanan terhadap pasar kripto muncul setelah Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) melaporkan bahwa indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Mei 2026 naik menjadi 4,1% secara tahunan, level tertinggi sejak April 2023. Angka tersebut juga berada jauh di atas target inflasi The Federal Reserve (The Fed) yang sebesar 2%.
Inflasi AS Meningkat, Pasar Langsung Bereaksi
Selain kenaikan PCE, Core PCE, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, juga meningkat dari 3,3% menjadi 3,4%.
Baca Juga:Dolar AS Menguat, Bitcoin Tertekan di Level $70.000Emas atau Bitcoin untuk Investasi: Mana yang Lebih Cocok?
Kenaikan inflasi ini sebagian besar dipicu oleh melonjaknya harga energi yang berkaitan dengan konflik di Iran. Dampaknya kemudian merambat ke berbagai sektor ekonomi lainnya sehingga memperkuat tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar keuangan, termasuk aset kripto dan pasar saham.
Harga Bitcoin Melemah Bersama Pasar Saham AS
Bitcoin Turun ke Kisaran US$59.872
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, mengatakan bahwa pasar segera merespons data inflasi terbaru tersebut.
Mengutip CoinMarketCap, harga Bitcoin turun 1,67% dalam 24 jam terakhir menjadi sekitar US$59.872 pada Jumat (26/6/2026). Dalam periode sepekan, Bitcoin telah terkoreksi 4,28%.
Tidak hanya pasar kripto, bursa saham Amerika Serikat juga mengalami tekanan. Dalam sepekan terakhir:
- Nasdaq turun hampir 4%.
- S&P 500 melemah sekitar 1,73%.
- Tekanan terbesar terjadi pada sektor teknologi dan semikonduktor.
Ekspektasi Suku Bunga Berubah
Pasar Mulai Mengantisipasi Potensi Kenaikan Suku Bunga
Menurut Fahmi Almuttaqin, data inflasi terbaru mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Sebelumnya, pasar masih berharap adanya peluang pemangkasan suku bunga. Namun, setelah data inflasi dirilis, ekspektasi tersebut bergeser menjadi kemungkinan kenaikan suku bunga.
Baca Juga:Cara Cek Status Desil Bansos 2026 Secara Online, Gunakan NIK KTP Lewat Situs dan AplikasiSamsung Galaxy A27 5G Resmi Hadir, Dukung MicroSD hingga 2TB dan Update Android 6 Tahun
Ia menilai perubahan ekspektasi seperti ini sering kali memberikan dampak yang lebih besar terhadap pergerakan pasar dibandingkan perubahan kebijakan yang benar-benar diterapkan.
