Data Ketenagakerjaan AS Jadi Sorotan Berikutnya
Laporan NFP Berpotensi Memengaruhi Pasar
Fahmi menilai laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau **Non-Farm Payroll (NFP)** yang dijadwalkan rilis pada 2 Juli 2026 menjadi data penting berikutnya.
Apabila pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang kuat, maka peluang kenaikan suku bunga pada September dinilai dapat semakin menguat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap pasar saham maupun aset kripto.
The Fed Beri Sinyal Kebijakan yang Lebih Ketat
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 Juni 2026, The Fed yang dipimpin Ketua baru Kevin Warsh memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Baca Juga:Dolar AS Menguat, Bitcoin Tertekan di Level $70.000Emas atau Bitcoin untuk Investasi: Mana yang Lebih Cocok?
Meski demikian, perhatian pasar lebih tertuju pada perubahan arah kebijakan bank sentral tersebut.
Beberapa poin penting yang menjadi perhatian antara lain:
- Proyeksi inflasi PCE direvisi dari 2,7% menjadi 3,6%.
- Forward guidance mengenai pemangkasan suku bunga dihapus.
- Muncul sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga.
- Sebanyak 9 dari 18 anggota komite memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
- Median proyeksi suku bunga akhir tahun berada di level 3,8%.
Investor Diminta Lebih Disiplin Mengelola Portofolio
Fahmi juga mengingatkan bahwa penguatan dolar Amerika Serikat akibat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap rupiah maupun aset berisiko yang berbasis rupiah.
Dalam kondisi tersebut, ia menilai strategi investasi yang lebih konservatif menjadi penting. Diversifikasi aset, pengelolaan ukuran posisi investasi (position sizing), serta pemahaman terhadap fundamental setiap instrumen dinilai dapat membantu mengurangi risiko di tengah tingginya ketidakpastian pasar.
Menurutnya, kuartal III 2026 menjadi periode yang menghadirkan tantangan baru bagi pasar keuangan. Karena itu, investor disarankan tidak terburu-buru menambah eksposur investasi secara agresif dan tetap bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga lebih dari satu kali apabila tekanan inflasi masih berlanjut.
