“Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat yang menemukan keberadaan satwa dilindungi… untuk segera melapor dan menghubungi kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat,” imbau Dwi Januanto .
Mengapa Tapir Begitu Penting?
Bagi sebagian orang, mungkin masih ada yang bertanya, mengapa heboh soal satu ekor tapir? Jawabannya, karena tapir adalah satwa yang terancam punah dan dilindungi di tingkat nasional maupun internasional.
Tapir (atau dalam bahasa ilmiahnya Tapirus indicus) adalah spesies yang masuk dalam daftar IUCN Red List of Threatened Species dengan status Endangered (Terancam Punah) . Populasinya di alam liar terus menurun drastis karena dua ancaman utama: hilangnya habitat akibat deforestasi dan perburuan liar.
Baca Juga:Panduan Lengkap Teknologi AI di Tahun 2026: Revolusi Kecerdasan Buatan yang Mengubah DuniaPiala Dunia 2026: Persaingan Sengit Menuju Puncak Bergengsi di Amerika Utara
Sebagai satwa pemakan buah (frugivora), tapir memainkan peran krusial dalam ekosistem hutan hujan tropis. Ia adalah penyebar benih yang sangat efektif. Buah-buahan yang dimakannya akan melewati saluran pencernaan dan bijinya tersebar di berbagai tempat melalui kotorannya. Hal ini membantu regenerasi hutan dan menjaga keanekaragaman hayati .
Konflik Manusia vs Satwa Liar: Masalah Kronis di Lampung
Insiden pembunuhan tapir di Mesuji bukanlah kasus pertama yang melibatkan konflik antara manusia dan satwa liar di Lampung. Wilayah ini merupakan salah satu provinsi dengan tingkat konflik tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dalam satu dekade terakhir, rata-rata terjadi 260 kasus konflik antara manusia dan satwa liar setiap tahunnya. Satwa yang paling sering terlibat adalah gajah dan harimau sumatera . Data menunjukkan bahwa sepanjang 2024–2025, tercatat delapan insiden konflik harimau sumatera yang menewaskan tujuh orang di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan .
Pemerintah Provinsi Lampung sendiri telah mengakui bahwa forum koordinasi untuk menangani konflik ini belum berjalan optimal. Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mendorong penguatan Tim Koordinasi, penyusunan SOP yang jelas, dan mitigasi jangka panjang seperti pemetaan wilayah rawan dan pemulihan ekosistem .
Salah satu pemicu utama satwa liar keluar dari habitatnya adalah berkurangnya sumber pakan alami di dalam hutan . Hal ini diperparah dengan terus berkurangnya luas hutan akibat konversi lahan. Kepala Balai Besar TNBBS, Hifzon Zawahiri, bahkan menyoroti merebaknya virus demam babi Afrika yang menurunkan populasi babi hutan, yang merupakan pakan utama harimau .
