RADARCIREBON.TV – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026), berubah mencekam. Sebuah ancaman bom yang dikirim melalui WhatsApp mengguncang sekolah dan memaksa seluruh kegiatan dibubarkan. Fakta mengejutkan terungkap setelah polisi menangkap pelaku: pria berinisial MY (34) yang mengirim pesan teror ternyata adalah wali murid di sekolah tersebut .
Kronologi dan Isi Pesan Ancaman
Insiden bermula saat upacara bendera MPLS berlangsung. Seorang guru kelas 1 dan pegawai tata usaha (TU) menerima pesan WhatsApp pada pukul 06.28 WIB . Isi pesan itu berbunyi: “SELAMAT PAGI DAN SALAM SEJAHTERA, DIHARAAP BERSIAP SIAP DENGAN HITUNGAN MENIT TEMPAT SEKOLAHAN SDN 15 PAGI INI AKAN MELEDAK DAN KAMI SUDAH MENYIAPKAN 11 TITIK…!!!”.
Kepanikan langsung melanda. Pihak sekolah segera mengamankan siswa di lapangan dan berkoordinasi dengan kepolisian . Tim Gegana, Densus 88 Antiteror, dan anjing pelacak (K9) dikerahkan untuk menyisir seluruh area selama empat jam . Hasilnya, tidak ditemukan bom atau benda mencurigakan.
Baca Juga:Pembuat Ancaman Teror Bom di Kuningan TerungkapTernyata Terduga Teroris Belajar Rakit Bom di Internet dan Bikin Tulisan Ajakan Jihad
Kepala Sekolah dan guru memutuskan membubarkan kegiatan MPLS dan memulangkan semua siswa demi keselamatan . Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi membenarkan bahwa kegiatan dibubarkan dan siswa dipulangkan karena kepanikan orang tua .
Fakta Baru: Pelaku Ternyata Wali Murid
Polisi dengan cepat mengidentifikasi pelaku. Yang mengejutkan, MY ternyata adalah orang tua dari salah satu siswa di SD tersebut . Bahkan, setelah mengirim pesan ancaman, MY sempat datang ke sekolah untuk menjemput anaknya . “Tadi pagi yang bersangkutan sempat juga menjemput anaknya dari sekolah pada saat diberitahukan ada teror terkait dengan ancaman bom tersebut,” ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imannudin .
Motif Masih Didalami
Dalam pemeriksaan awal, MY mengaku mengirimkan pesan ancaman hanya karena iseng . Namun, polisi tidak serta merta menerima pengakuan itu. “Kami tidak percaya begitu saja dan kami terus melakukan pendalaman terhadap pelaku, kemudian background (latar belakang) pelaku, dan keterhubungan pelaku dengan pihak-pihak yang lain,” tegas Kombes Iman .
Polisi juga mencium adanya indikasi masalah personal yang dialami pelaku. MY sempat menyinggung soal rasa kecewa terhadap kehidupan pribadinya, namun hal itu dipastikan tidak ada kaitannya dengan pihak sekolah . “Tapi sempat juga menyampaikan ada kekecewaan secara pribadi, tapi kekecewaan dalam hidupnya, bukan terhadap sekolah,” jelas Iman .
