RADARCIREBON.TV – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar daerah mulai mengalami penurunan intensitas hujan seiring peralihan musim yang berlangsung secara bertahap.
BMKG menjelaskan, musim kemarau di Indonesia tidak datang secara bersamaan di seluruh wilayah. Perbedaan karakteristik geografis dan kondisi atmosfer menyebabkan awal musim kemarau di setiap daerah dapat berlangsung pada waktu yang berbeda.
Meski demikian, masyarakat diminta mulai mengantisipasi berbagai dampak yang umum terjadi selama musim kemarau, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga:BMKG Ungkap Indonesia Kini Dikepung 14 Zona Megathrust, Potensi Gempa Mencapai Magnitudo 9,2Waspada! Ini Jadwal dan Wilayah yang Diprediksi Alami Puncak Kemarau 2026 Menurut BMKG
Wilayah Kemarau Terus Bertambah
Berdasarkan pemantauan BMKG, jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan. Seiring berkurangnya curah hujan, sejumlah daerah diperkirakan mengalami kondisi cuaca yang lebih panas dan kering dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
BMKG mengingatkan bahwa durasi musim kemarau di setiap wilayah juga dapat berbeda, bergantung pada kondisi iklim lokal dan dinamika atmosfer.
Dampak Musim Kemarau yang Perlu Diwaspadai
Memasuki musim kemarau, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah potensi risiko, di antaranya:
- Berkurangnya pasokan air bersih di beberapa daerah.
- Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Cuaca panas pada siang hari yang dapat memicu dehidrasi.
- Penurunan kualitas udara akibat asap apabila terjadi kebakaran.
- Gangguan pada sektor pertanian, terutama di wilayah yang bergantung pada air hujan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi, termasuk pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran lahan.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Salah satu perhatian utama selama musim kemarau adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama saat kondisi vegetasi mengering.
Selain itu, masyarakat juga disarankan menggunakan air secara bijak dan memperhatikan kondisi kesehatan ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari saat suhu udara cenderung lebih tinggi.
