Spread atau selisih antara harga jual dan buyback Galeri 24 tercatat Rp182.000 per gram, lebih rendah dibandingkan Antam yang mencapai Rp315.000 per gram. Hal ini menjadikan emas Galeri 24 sebagai pilihan yang cukup menarik bagi investor yang ingin meminimalkan biaya transaksi saat menjual kembali emasnya.
Apa Itu Emas Galeri 24?
Galeri 24 adalah merek emas batangan yang diproduksi oleh PT Pegadaian Galeri Dua Empat (Galeri 24), yang merupakan anak perusahaan dari BUMN PT Pegadaian (Persero). Produk ini hadir dengan pendekatan yang lebih dekat ke konsumen ritel yang ingin membeli, menyimpan, atau menjual kembali emas melalui jaringan Pegadaian.
Emas Galeri 24 memiliki kadar 24 karat atau setara 99,99% dan telah mengantongi sertifikasi SNI 8880 BSN serta berstandar ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001. Produknya memakai press modern dengan fitur keamanan berstandar nasional. Karena dijual langsung lewat jaringan Pegadaian di seluruh Indonesia, Galeri 24 mulai mendapat tempat di hati masyarakat sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau .
Baca Juga:Harga Emas UBS Hari Ini 30 Juli 2026: Turun Tipis di Pegadaian, Buyback Naik di UBS LifestyleHarga Emas Hari Ini 30 Juli 2026 Turun Serentak, Antam Masih di Level Rp2,601 Juta per Gram
Emas Galeri 24 juga menjadi salah satu produk unggulan Pegadaian karena kemudahan akses dan harga yang kompetitif. Dengan jaringan outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, masyarakat dapat dengan mudah membeli dan menjual emas Galeri 24 tanpa harus repot mencari penjual atau pembeli di luar Pegadaian.
Apa yang Mendorong Kenaikan Harga Emas Galeri 24?
Kenaikan harga emas Galeri 24 hari ini sejalan dengan pergerakan harga emas dunia yang kembali menunjukkan tren positif pada awal pekan ini. Harga emas dunia pada Kamis (30/7/2026) pagi bergerak di atas US$4.000 per troy ons, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang memicu permintaan terhadap aset safe haven .
Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah membuat harga emas yang dipatok dalam dolar AS menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah, yang pada akhirnya turut mendorong kenaikan harga emas di dalam negeri.
Selain itu, meningkatnya permintaan fisik emas di pasar domestik juga turut mendorong kenaikan harga jual dan buyback. Masyarakat cenderung membeli emas saat harga mulai pulih untuk berinvestasi, sementara di sisi lain, permintaan dari industri dan investor juga tetap tinggi. Kenaikan harga jual dan buyback yang terjadi secara bersamaan menunjukkan bahwa pasar logam mulia di dalam negeri masih cukup likuid dan diminati .
