Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, Puncaknya di Agustus-September

foto
BMKG memperingatkan puncak kemarau 2026 di Agustus-September akan lebih kering dan panjang, waspadai kekeringan dan kebakaran hutan. | Foto: pexels
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan penting terkait musim kemarau 2026. Musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih kering dan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino diproyeksikan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027 . Kondisi ini, yang diperkirakan akan mencapai kategori kuat, akan memperparah dampak kemarau di Indonesia . “Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, dimana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal,” jelasnya .

Hingga pertengahan Juli 2026, tercatat 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua . Sebanyak 437 ZOM (48,77 persen) diperkirakan akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya .

Baca Juga:Musim Kemarau di Cirebon, Ini Tips Menjaga Kesehatan Sekaligus Menghemat Penggunaan AirAngin Kencang di Pulau Jawa Diprediksi Berlangsung hingga Akhir Musim Kemarau 2026

Puncak Kemarau dan Wilayah Waspada

Puncak musim kemarau 2026 diprakirakan dominan terjadi pada bulan Agustus dan September . Sekitar 48,84 persen zona musim diperkirakan mencapai puncak pada Agustus, sementara 25,41 persen lainnya pada September . Bulan-bulan ini menjadi periode kritis yang perlu diwaspadai .

BMKG juga mengingatkan bahwa risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan mencapai puncaknya pada periode yang sama, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan . Lima provinsi prioritas yang memerlukan intensifikasi pemantauan adalah Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi . Hingga 28 Juli 2026, BMKG telah mencatat 4.900 titik panas sebagai indikasi awal potensi karhutla .

Dampak dan Imbauan

Kekeringan mulai terasa di sejumlah daerah sebelum puncak kemarau tiba. Di Pinrang, Sulawesi Selatan, ratusan hektare sawah sudah mengalami kekeringan dan terancam gagal panen . Warga Gunungkidul mulai mengandalkan bantuan air bersih, sementara debit Sungai Ciliwung di Bogor surut tajam .

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk memanfaatkan informasi prakiraan iklim dalam menyusun langkah antisipasi . Mulai dari penyesuaian pola tanam, pengelolaan sumber daya air, hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan .

0 Komentar