RADARCIREBON.TV- Pil KB, KB suntik, implan, hingga IUD hormonal sering jadi pilihan utama bagi banyak perempuan untuk mencegah kehamilan.
Namun di balik kepraktisannya, muncul kekhawatiran yang kerap memicu dilema: apakah penggunaan kontrasepsi hormonal benar-benar bisa memicu risiko kanker payudara?
Dokter Spesialis Bedah Payudara dari Solis Breast Care Centre Singapura, dr. Lim Sue Zann, menjelaskan bahwa ketakutan tersebut memang bukan tanpa alasan.
Baca Juga:Prediksi Jadwal Persib Bandung di Awal Musim 2026/2027: 3 Laga Tandang dalam 9 Hari, Ada Persija dan FC SeoulChelsea Cuci Gudang di Deadline Day! 6 Pemain Dilepas, Enzo Fernandez Dijual Rp3 Triliun ke Man City
Berbagai penelitian medis telah mengonfirmasi adanya keterkaitan antara paparan hormon dan peningkatan risiko kanker payudara.
Meski begitu, ia meminta kaum hawa tidak langsung panik berlebihan. Pasalnya, peningkatan risiko tersebut tergolong sangat kecil secara angka absolut dan tidak serta-merta membuat penggunanya pasti terkena kanker.
“Peningkatan risikonya pada kontrasepsi hormonal umumnya kecil secara absolut. Hal yang juga penting dipahami adalah risiko bukan berarti kepastian,” ujar dr. Sue Zann, dikutip dari keterangan resminya, Senin (31/8/2026).
Seberapa Besar Risikonya secara Angka Medis?
Berdasarkan data dari National Cancer Institute (NCI), pil KB kombinasi (mengandung estrogen dan progestin) maupun kontrasepsi yang hanya berisi progestin memang dikaitkan dengan peningkatan risiko relatif sekitar 24 persen selama masa penggunaan hingga beberapa saat setelah dihentikan.
Namun jika ditarik ke dalam skala populasi real, angka tersebut ternyata tergolong sangat kecil. NCI mengestimasi bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal selama satu tahun penuh hanya menambah sekitar 1 kasus baru kanker payudara dari setiap 7.690 perempuan.
Kabar baiknya lagi, sifat risiko ini tidak permanen. Begitu penggunaan kontrasepsi hormonal dihentikan, risiko tersebut akan menurun secara bertahap dan bakal kembali normal seperti populasi umum dalam kurun waktu sekitar 10 tahun.
Jangan Hanya Cemas, Kenali Faktor Risiko Lainnya
Dokter Sue Zann menekankan bahwa kanker payudara tidak cuma dipicu oleh hormon. Ada jajaran faktor lain yang memegang peranan penting, mulai dari faktor usia, keturunan (genetik), riwayat keluarga, berat badan, intensitas aktivitas fisik, hingga kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Baca Juga:Mau Operasi Pakai BPJS? Cek 19 Tindakan yang Ditanggung dan 5 yang Harus Bayar SendiriKabar Terbaru 5 Pemain Timnas Indonesia di Eropa: Jay Idzes Comeback, Elkan Baggott Debut Championship
Oleh karena itu, perempuan dianjurkan untuk tidak langsung menyetop atau menghindari kontrasepsi hormonal hanya karena rasa takut yang berlebihan.
