Tim seleksi ini terdiri dari tokoh pendidikan, akademisi, hingga tokoh pesantren. Semua bertugas menilai potensi santri terbaik, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga akhlak, semangat, dan visi keumatan.
Program beasiswa ini bukan hanya soal gelar, tapi ikhtiar melahirkan generasi santri yang cakap dalam ilmu dunia dan kuat dalam iman. Harapannya, para alumni kelak akan kembali ke pondok asal, membawa ilmu yang lebih luas untuk mendidik generasi berikutnya.
“Kami ingin mereka pulang, bukan untuk bangga-banggaan, tapi untuk mengabdi. Pondok adalah rumah, dan rumah itu butuh cahaya dari anak-anak terbaiknya,” ujar Taj Yasin dengan suara yang nyaris bergetar.
Baca Juga:Produk Jateng Tembus Dunia! Gubernur Ahmad Luthfi Lepas Ekspor Bus Karoseri Laksana ke Sri LankaMasalah Stunting Masih Jadi PR Besar, Pemerintah Fokus di Jabar, Jateng, dan Sulsel
Dalam dunia yang makin terpolarisasi, langkah Pemprov Jateng ini adalah angin segar. Bukan hanya soal dana, tapi tentang keberpihakan terhadap ilmu agama, terhadap generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pelita hidup.
Di tengah sorotan sorotan politik dan ekonomi yang kerap penuh polemik, Jawa Tengah menghadirkan narasi lain—narasi kebajikan. Dan di malam yang khidmat di Wonosobo itu, ratusan santri berjalan mantap di atas panggung, tak hanya membawa hafalan, tapi juga harapan. Harapan bahwa negeri ini masih punya tempat bagi cahaya-cahaya kecil yang akan menerangi masa depan umat.
Pondok dan pemerintah berjalan bergandengan. Dan dari Wonosobo, Jawa Tengah kembali menyalakan obor Islam Nusantara—hangat, terang, dan membumi.
