•Aspek Iklim dan Keberlanjutan
FIFA juga menyebut perubahan jadwal ini sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, suhu global terus meningkat, dan banyak negara di Eropa maupun Amerika Latin mengalami gelombang panas yang ekstrem pada pertengahan tahun.
Departemen Riset Iklim FIFA melaporkan bahwa suhu di beberapa kota kandidat tuan rumah Piala Dunia 2034 bisa mencapai lebih dari 38 derajat Celsius pada bulan Juni. Dengan kondisi seperti itu, keselamatan pemain dan penonton menjadi perhatian serius.
Infantino menegaskan bahwa FIFA ingin memastikan turnamen besar dunia tetap ramah lingkungan dan manusiawi.
Baca Juga:Garuda Bisa Geser Vietnam! Ini Hitung-Hitungan Ranking FIFA Jika Timnas Indonesia Menang atas Arab SaudiSkotlandia Kian Perkasa: Bungkam Yunani 3-1 dan Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan di Kualifikasi Piala Dunia 2
“Kami tidak ingin pertandingan berlangsung dalam suhu ekstrem yang membahayakan kesehatan. Jika harus mengubah tradisi demi masa depan sepak bola, maka itu langkah yang layak diambil,” katanya.
•Spekulasi: Apakah Piala Dunia 2034 Akan Jadi yang Pertama?
Meski FIFA belum mengonfirmasi secara resmi, banyak analis memperkirakan bahwa wacana ini bisa diterapkan mulai Piala Dunia 2034, yang kabarnya akan digelar di Arab Saudi. Negara tersebut memiliki suhu yang sangat tinggi di musim panas, serupa dengan Qatar, sehingga penjadwalan pada musim dingin mungkin menjadi pilihan logis.
Selain itu, ada pula pertimbangan hak siar global. Banyak jaringan televisi dan sponsor menilai bahwa penonton global kini lebih fleksibel terhadap perubahan jadwal, selama turnamen tetap menarik dan kompetitif.
Kesimpulan
•Reformasi Besar di Depan Mata
Pernyataan Gianni Infantino untuk tetap “berpikiran terbuka” menandakan bahwa FIFA tengah mempertimbangkan reformasi besar terhadap cara dunia memandang Piala Dunia. Jika benar-benar dipindahkan ke musim dingin, hal ini bisa menjadi perubahan paling signifikan sejak sistem turnamen diperkenalkan pada 1930.
Namun, keputusan akhir tidak akan diambil dalam waktu dekat. FIFA akan melakukan studi komprehensif, konsultasi dengan federasi, dan uji dampak ekonomi serta lingkungan sebelum mengambil langkah resmi.
Bagi sebagian orang, ide ini adalah bentuk adaptasi terhadap zaman. Bagi yang lain, ini dianggap sebagai ancaman terhadap tradisi sepak bola yang sudah melekat selama hampir satu abad. Apa pun hasil akhirnya, satu hal pasti, masa depan sepak bola global sedang memasuki babak baru yang penuh perubahan dan tantangan.
