RADARCIREBON.TV- Timnas Indonesia kembali menuai hasil pahit dalam perjuangannya di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia setelah kalah 2-3 dari tuan rumah Arab Saudi, Rabu (8 Oktober) malam waktu setempat.
Meski tampil penuh semangat dan beberapa kali unggul, Garuda gagal menjaga momentum karena minimnya efektivitas dalam penyelesaian akhir serta kurangnya ketajaman dalam open play, yang membuat pelatih Patrick Kluivert menyesali komposisi timnya.
Kekalahan tersebut membuat peluang Indonesia untuk tampil di Piala Dunia semakin berat. Dengan format dimana hanya juara grup lolos otomatis, dan runner-up harus melalui jalur playoff antar benua, setiap poin menjadi sangat krusial. Berdasarkan performa terkini, Indonesia masih mengejar agar tetap berada di posisi runner-up dengan hasil maksimal di laga selanjutnya, terutama melawan Irak.
Baca Juga:Jangan Lewatkan Malam Ini! Jam Tayang Timnas U23 Indonesia vs India Leg 1 Live di IndosiarDiserang Kritik! Patrick Kluivert Dinilai Jadi Biang Kekalahan Indonesia dari Arab Saudi
Jalan Laga dan Titik Kritis
Indonesia memang tampil agresif sejak kick-off. Gol penalti pertama dari Kevin Diks membuat tim tamu unggul lebih dulu. Namun Arab Saudi merespons cepat melalui Saleh Abu Al-Shamat yang menyamakan kedudukan dari open play. Sebelum babak pertama usai, Feras Al-Buraikan mencetak gol balik untuk Saudi lewat tendangan penalti.
Memasuki babak kedua, Indonesia mencoba mengejar, dan kembali melalui tendangan penalti, Diks menyamakan skor menjadi 2-2. Namun Al-Buraikan kembali menjadi momok dengan gol ketiga pada menit ke-62, yang menjadi pembeda hingga peluit panjang dibunyikan. Bahkan setelah pasukan Garuda menekan, termasuk peluang emas, mereka gagal menggandakan angka di kesempatan yang ada.
Kekurangan Efektivitas & Kritik dari Kluivert
Setelah pertandingan, pelatih Patrick Kluivert mengutarakan kekecewaannya terhadap peluang yang terbuang dan ketidakmampuan timnya untuk mencetak gol dari situasi open play. Ia menyebut bahwa semua gol Indonesia di laga itu lahir dari titik penalti, sebuah hal yang menurutnya menunjukkan kelemahan dalam penyelesaian secara umum dan juga kreativitas dalam skema menyerang.
Kluivert mengatakan bahwa selama latihan mereka sudah mencoba meningkatkan ketajaman, namun tekanan pertandingan dan lawan berkualitas membuat ide-ide yang sudah disiapkan belum mampu diterjemahkan sempurna ke lapangan. Namun, ia juga menyatakan bahwa itu bukan alasan: “Kami harus bertindak,” katanya, menekankan bahwa mental dan disiplin menjadi aset utama untuk sisa pertandingan kualifikasi.
