Pegambilan Obat ARV untuk Penderita HIV/AIDS di RSUD Waled Bertarif – Video

Pegambilan Obat ARV untuk Penderita HIV/AIDS di RSUD Waled Bertarif
0 Komentar

Pasien penderita HIV AIDS mengeluhkan sulitnya akses obat ARV di Rumau Sakit Umum Daerah Waled. Pasien bahkan diminta untuk menebus obat yang seharusnya gratis.

Pasien penderita ODHIV atau Orang Dengan HIV AIDS, mengeluhkan sulitnya akses obat antiretroviral ARV di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled, Kabupaten Cirebon. Selama bertahun tahun, pasien ODHIV yang menjalani pengobatan di RSUD Waled bahkan mengaku dimintai uang jika ingin mengambil obat ARV ke oknum internal dan eksternal RSUD Waled.

Pasien ODHIV bahkan diduga mengalami intimidasi dan diskriminasi secara verbal dari oknum internal rumah sakit serta oknum eksternal yang menjadi penghubung dan memiliki akses langsung kepada farmasi RSUD Waled. Selama bertahun tahun, pasien ODHIV harus menebus obat ARV yang seharusnya diberikan secara gratis menggunakan BPJS dan jaminan negara melalui program Kementerian Kesehatan. Namun pasien ODHIV justru dimintai uang berkisar 50 sampai 300 ribu rupiah setiap bulannya, jika ingin mengambil obat antiretroviral di farmasi RSUD Waled, bahkan obat bisa ditahan jika pasien ODHIV tidak memberikan uang tebusan.

Baca Juga:DPRD Rekomendasikan Pengelolaan Parkir Gandeng Pihak Ketiga – VideoSMP Muhammadiyah 1 Kota Cirebon Adakan MHQ – Video

Keluhan sulitnya akses obat ARV dan adanya dugaan intimidasi, disampaikan pasien ODHIV kepada lembaga yang bergerak pada penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS. Praktik dugaan pungutan liar diduga melibatkan oknum internal RSUD Waled, dan oknum eksternal yang ditunjuk sebagai relawan pandamping pasien ODHIV. Namun, relawan yanf ditunjuk sebagai pendamping pasien diduga tidak berbadan hukum.

Y salah seorang pasien ODHIV bahkan mengaku sudah dua belas tahun harus membayar sejumlah uang kepada oknum rumah sakit dan oknum relawan. Padahal seumur hidup pasien ODHIV harus mengkonsumsi obat antiretroviral untuk memperkuat sistem kekebalan, mencegah komplikasi AIDS, dan mengurangi resiko penularan.

Sementara, pasien ODHIV berharap ada perlindungan dan keadilan dari pemererintah, karena dugaan adanya intimidasi dan pungutan liar dengan dalih pengambilan obat ARV sangat memberatkan. Terlebih ekonomi pasien ODHIV juga dalam kondisi yang memprihatinkan.

0 Komentar