Masjid Ki Buyut Trusmi di Desa Trusmi Wetan Kabupaten Cirebon, menjadi simbol Islam. Hingga sekarang, budaya Islam dan lokal di situs keramat ini masih terjaga dan menjadi daya tarik.Berada di tengah permukiman warga Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah situs bersejarah yang masih terawat hingga kini. Masjid dan Pesarean Buyut Trusmi tak hanya menyimpan jejak dakwah Islam, namun juga sarat simbol keimanan dan tradisi turun-temurun.Komplek Situs Buyut Trusmi diyakini sebagai peninggalan Mbah Buyut Trusmi, yang dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana. Kedatangannya ke Trusmi bukan sekadar berpindah tempat, melainkan untuk menyebarkan ajaran Islam dan membangun tatanan masyarakat.Di dalam kompleks, terdapat pendepo, pekuncen, dan masjid kuno yang masih digunakan untuk ibadah. Dipelatannya, tumbuh pohon belimbing wuluh dengan enam guratan yang dimaknai sebagai rukun iman. Serta belimbing bintang dengan lima sisi yang melambangkan rukun Islam.Makna filosofinya, beriman belum tentu Islam, dan Islam belum tentu punya iman. Pesan ini menjadi pengingat agar nilai keyakinan dan praktik ibadah berjalan seiring.Tak jauh dari masjid, terdapat witana yang dulu menjadi tempat pertemuan. Kini ruang tersebut digunakan masyarakat untuk menyendiri dan mencari ketenangan. Disekitarnya, ada pekulahan atau kolam yang dikaitkan dengan Walangsungsang atau Mbah Kuwu Cirebon, dan dimaknai sebagai tempat penetralisir hal negatif.Di area pesarean, makam Buyut Trusmi berdampingan dengan pemakaman umum. Seluruh kompleks dikelola oleh keturunan Ki Gede Trusmi dengan struktur inti tujuh belas orang, dibantu para kemit yang jumlahnya tetap.Tak hanya merawat bangunan, mereka juga menjaga tradisi arak-arakan, memayu, ganti welit, serta trusmian atau selawean. Di tengah perubahan zaman, situs Buyut Trusmi tetap hidup sebagai ruang spiritual dan pewarisan dakwah dari generasi ke generasi.