RADARCIREBON.TV – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perhatian dunia setelah melontarkan pernyataan keras terkait Kuba. Trump menyebut negara komunis di kawasan Karibia tersebut bisa mengalami nasib yang sama seperti Iran jika terus menentang kebijakan Amerika Serikat.
Trump menyatakan bahwa pemerintahannya saat ini memang masih fokus pada konflik dengan Iran. Namun ia mengisyaratkan bahwa setelah persoalan tersebut selesai, Kuba bisa menjadi target kebijakan berikutnya dari Washington.
Trump bahkan mengklaim bahwa kondisi Kuba saat ini sudah sangat lemah dan berpotensi runtuh dalam waktu dekat. Menurutnya, tekanan ekonomi yang diberikan Amerika Serikat, terutama melalui blokade energi, telah membuat situasi di negara tersebut semakin sulit.
“Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan,” kata Trump.
Baca Juga:Iran Mundur dari Piala Dunia 2026? Ini 2 Opsi Krusial FIFA dan Daftar Calon Penggantinya!Aksi Donald Trump Bikin Resah, Ramai Wacana Boikot Piala Dunia 2026 di AS!
Ia menambahkan bahwa selama lebih dari 50 tahun Kuba telah menghadapi berbagai tekanan dari Amerika Serikat. Namun kini, menurut Trump, negara tersebut berada dalam kondisi yang jauh lebih rapuh dibandingkan sebelumnya.
Dalam rencananya, Trump juga menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan menjadi sosok yang berperan penting dalam menangani kebijakan terhadap Kuba. Rubio sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki sikap keras terhadap pemerintahan di Havana.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat telah memberlakukan berbagai tekanan ekonomi kepada Kuba, termasuk pembatasan pasokan energi. Kebijakan ini berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat di negara tersebut.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Kuba tidak menerima pengiriman minyak sejak 9 Januari. Kondisi tersebut memaksa sejumlah maskapai penerbangan mengurangi bahkan menangguhkan layanan penerbangan menuju pulau tersebut.
Situasi ini semakin memperparah krisis ekonomi yang telah berlangsung lama di Kuba. Negara tersebut selama beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai masalah serius seperti kekurangan bahan bakar, makanan, dan obat-obatan.
Selain itu, pemadaman listrik juga kerap terjadi di berbagai wilayah. Bahkan baru-baru ini, dua pertiga wilayah Kuba sempat mengalami pemadaman listrik akibat kerusakan di pembangkit listrik Antonio Guiteras, yang merupakan pembangkit terbesar di negara itu.
Pemerintah Kuba sendiri menuduh Amerika Serikat sengaja menekan perekonomian mereka melalui sanksi dan blokade energi. Havana menilai kebijakan tersebut sebagai upaya untuk menggulingkan pemerintahan yang berkuasa.
