RADARCIREBON.TV – Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026 kembali memicu gelombang kritik terhadap kondisi sepakbola di Negeri Menara Pisa. Kekalahan dari Bosnia & Herzegovina di babak play-off menjadi pukulan telak yang memperpanjang masa kelam Gli Azzurri di level internasional.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion Bilino Polje, Zenica, Italia harus puas bermain imbang 1-1 hingga 120 menit. Namun, nasib buruk menghampiri saat adu penalti. Hanya satu pemain Italia, Sandro Tonali, yang berhasil mencetak gol, sementara Bosnia tampil sempurna dengan empat eksekutor sukses menjalankan tugasnya.
Kegagalan ini bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih dalam dalam sistem sepakbola Italia. Salah satu sorotan utama adalah minimnya regenerasi pemain lokal yang siap bersaing di level tertinggi.
Baca Juga:Italia Absen Piala Dunia! Gattuso: Gimana Masa Depanku? Gak PentingItalia Gagal Lagi ke Piala Dunia 2026: Update Daftar Lengkap Negara yang Sudah Lolos
Kompetisi Serie A yang dulu dikenal sebagai salah satu liga terbaik dunia kini menghadapi kritik tajam. Banyak klub dinilai terlalu bergantung pada pemain asing, sehingga menghambat perkembangan talenta muda Italia. Akibatnya, pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso, memiliki pilihan yang semakin terbatas dalam menyusun skuad kompetitif.
Salah satu contoh yang paling disorot adalah Como. Klub yang berlaga di Serie A ini disebut-sebut sebagai simbol dari krisis tersebut. Dalam skuadnya saat ini, Como hanya memiliki sedikit pemain Italia, di antaranya Edoardo Goldaniga dan Mauro Vigorito.
Fenomena ini memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk tokoh publik Italia, Aldo Zilli. Ia menilai bahwa kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem pembinaan pemain di level klub.
“Serie A memiliki sangat sedikit pemain Italia. Padahal kita punya banyak pemain muda berbakat yang sedang berkembang. Bahkan tim U-21 bisa dibilang lebih menjanjikan, tapi kita harus menunggu beberapa tahun lagi,” ujarnya.
Zilli juga secara khusus menyoroti Como yang dianggap tidak memberikan ruang bagi pemain lokal. Ia mengungkapkan bahwa klub-klub di Italia kini mulai meninggalkan peran akademi sebagai fondasi utama pengembangan pemain.
“Tim seperti Como tidak memiliki pemain Italia dan telah dikritik habis-habisan. Banyak klub tidak memberdayakan akademi mereka. Anak saya pernah di Como, jadi saya tahu bagaimana situasinya,” tambahnya.
