Insiden Kontroversial di EPA U-20: Aksi Tendangan Brutal Pemain Muda Picu Sorotan Publik

Peristiwa tersebut melibatkan Fadly Alberto yang dikaitkan dengan aksi kekerasan
src-img : ofc.ig @timnasindonesia
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Dunia sepak bola usia muda Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah insiden kontroversial terjadi dalam ajang Elite Pro Academy U-20 musim 2025/2026. Peristiwa tersebut melibatkan Fadly Alberto yang dikaitkan dengan aksi kekerasan dalam pertandingan antara Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang.

Laga yang berlangsung sengit itu berakhir dengan kemenangan Dewa United U-20 dengan skor 2-1. Dua gol tim tamu dicetak oleh Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis, sementara Bhayangkara FC U-20 hanya mampu membalas melalui Aqilah Lissunah. Meski pertandingan berjalan kompetitif, perhatian publik justru tertuju pada insiden yang terjadi setelah peluit akhir dibunyikan.

Kericuhan bermula dari adu argumen antar pemain yang kemudian memanas menjadi konflik terbuka. Dalam situasi tersebut, seorang pemain Bhayangkara U-20 terlihat berlari ke arah lawan dan melakukan tendangan keras yang mengenai bagian belakang kepala pemain Dewa United. Aksi tersebut membuat korban terjatuh dan membutuhkan penanganan medis, sementara rekan-rekan setimnya bereaksi emosional sehingga situasi semakin tidak terkendali.

Baca Juga:Manchester City Tumbangkan Arsenal 2-1, Persaingan Gelar Liga Inggris Semakin MemanasFIFA Puji Fadly Alberto! Striker Timnas U-17 Indonesia Jadi Sorotan Jelang Piala Dunia 2025

Rekaman kejadian itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Banyak warganet mengaitkan pelaku dengan Fadly Alberto, sosok yang dikenal sebagai salah satu talenta muda potensial Indonesia. Ia sebelumnya pernah memperkuat tim nasional kelompok usia dan masuk dalam skuad Piala Dunia U-17 2025, sehingga insiden ini menjadi sorotan tajam karena dinilai tidak mencerminkan nilai sportivitas.

Pasca kejadian, akun media sosial Fadly dilaporkan membatasi interaksi publik. Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak yang bersangkutan. Perhatian kini tertuju pada PSSI, khususnya Komite Disiplin, yang berwenang menentukan sanksi atas pelanggaran tersebut.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengendalian emosi dalam sepak bola, terutama di level usia muda. Insiden serupa berpotensi berdampak panjang terhadap karier pemain serta citra kompetisi jika tidak ditangani secara tegas dan profesional.

0 Komentar