RADARCIREBON.TV – Isu tak biasa mencuat jelang Piala Dunia 2026. Seorang utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mengusulkan agar Iran dicoret dari daftar peserta dan digantikan oleh Italia. Wacana ini langsung memicu perhatian luas, mengingat keputusan peserta turnamen dunia berada di bawah kewenangan penuh FIFA.
Laporan ini pertama kali diungkap oleh Financial Times. Dalam laporan tersebut, utusan khusus AS, Paolo Zampolli, mengaku telah menyampaikan usulan tersebut kepada Trump dan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Ia beralasan Italia memiliki sejarah panjang di sepak bola dunia dan pantas tampil di ajang sebesar Piala Dunia.
Zampolli juga menyebut usulan ini memiliki dimensi diplomatik. Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Italia, yang sempat memanas akibat perbedaan sikap terkait konflik Iran, menjadi latar belakang munculnya ide tersebut. Dengan memasukkan Italia ke Piala Dunia 2026 yang sebagian digelar di AS, diharapkan hubungan kedua negara bisa membaik.
Baca Juga:Strategi Diam-Diam Herdman! Persiapan FIFA Matchday Juni 2026 Dimulai dari Blusukan ke Super LeagueFIFA BERI LAMPU HIJAU! 3 Pemain Naturalisasi Baru Siap Perkuat Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026
Namun, FIFA dengan cepat memberikan respons tegas. Federasi sepak bola dunia itu menolak wacana tersebut dan memastikan tidak ada rencana untuk mengganti Iran. Keputusan peserta Piala Dunia tetap berdasarkan hasil kualifikasi resmi, bukan pertimbangan politik.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya juga telah menegaskan komitmen tersebut saat bertemu dengan Federasi Sepak Bola Iran. Ia menyatakan bahwa Iran tetap menjadi peserta sah Piala Dunia 2026.
Iran sendiri telah memastikan tiket ke putaran final dan dijadwalkan tampil di fase grup. Meski demikian, keikutsertaan mereka sempat menjadi sorotan karena faktor geopolitik, terutama karena Amerika Serikat menjadi salah satu tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko.
Di sisi lain, Italia justru gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Tim berjuluk Azzurri tersebut tersingkir di babak playoff, melanjutkan tren negatif setelah sebelumnya juga absen di dua edisi Piala Dunia.
Situasi ini mempertegas batas antara olahraga dan politik yang kerap bersinggungan namun tetap dijaga pemisahannya oleh lembaga seperti FIFA. Dalam konteks ini, FIFA menunjukkan sikap konsisten bahwa kompetisi harus berjalan berdasarkan aturan dan hasil di lapangan.
