Gunung Merapi Kembali Erupsi, BPPTKG Laporkan Awan Panas Guguran hingga 2 Kilometer

gunung marapi erupsi foto: tangkapan layar depan radarcirebon.tv
gunung marapi erupsi abu vulkanik landa kabupaten agam foto: tangkapan layar depan radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menjadi perhatian pada Senin pagi, 18 Mei 2026. Gunung api aktif yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu dilaporkan kembali mengalami erupsi dengan awan panas guguran yang meluncur sejauh sekitar 2 kilometer.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan, awan panas guguran terjadi pada Minggu malam dan mengarah ke sektor barat daya. Material vulkanik panas terpantau meluncur melalui aliran Kali Sat dan Kali Putih yang memang menjadi jalur utama guguran lava Merapi dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam laporan pengamatan terbaru, aktivitas Gunung Merapi masih didominasi guguran lava pijar dan gempa vulkanik dengan intensitas cukup tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan suplai magma dari dalam tubuh gunung masih terus berlangsung hingga saat ini.

Baca Juga:Abu Vulkanik Gunung Dukono Mulai Ganggu Aktivitas Warga, Ini Wilayah TerdampaknyaTinggi Kolom Abu Gunung Dukono Terbaru Capai 4.300 Meter, Aktivitas Erupsi Masih Tinggi

BPPTKG juga menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Artinya, masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi erupsi susulan, awan panas, maupun guguran lava yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Petugas pengamatan Gunung Merapi melaporkan amplitudo awan panas guguran mencapai lebih dari 60 mm dengan durasi lebih dari dua menit. Saat cuaca cerah pada malam hari, pijaran lava masih terlihat jelas dari puncak Merapi.

Selain awan panas guguran, aktivitas kegempaan Gunung Merapi juga masih tinggi. Dalam sepekan terakhir, BPPTKG mencatat lebih dari seribu kali gempa vulkanik terjadi di sekitar gunung tersebut. Aktivitas gempa ini menjadi indikator bahwa tekanan magma di dalam perut bumi masih cukup aktif.

Meski belum ada peningkatan status ke level lebih tinggi, masyarakat diminta tidak beraktivitas di zona bahaya yang telah ditetapkan pemerintah. Kawasan sektor selatan dan barat daya Merapi menjadi wilayah yang paling berpotensi terdampak awan panas guguran dan aliran material vulkanik.

Pemerintah daerah bersama BPBD setempat juga terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas Merapi. Sejumlah jalur evakuasi dan tempat pengungsian dilaporkan dalam kondisi siaga apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan.

0 Komentar