Rupiah Anjlok ke Rp17.800 per Dolar AS, Pemerintah: Itu Masih dalam Batas Antisipasi Kami

Ilustrasi rupiah
Ilustrasi rupiah: rupiah Anjlok ke Rp17.800 per Dolar AS Foto: pexels
0 Komentar

Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih membayangi pasar global. Investor lebih memilih menyimpan aset dalam dolar AS karena imbal hasil yang menarik.

Dari dalam negeri, aksi repatriasi dividen oleh perusahaan asing juga turut menambah permintaan dolar AS. Ini adalah fenomena tahunan yang selalu terjadi pada kuartal kedua.

Namun pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Inflasi terkendali, cadangan devisa masih memadai, dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif.

Baca Juga:Pelemahan Rupiah Pengaruhi Investasi – VideoHarga Oli dan Spare Part Motor Melonjak, Pelemahan Rupiah Jadi Pemicu

APBN Tetap Aman

Pemerintah mengklaim APBN 2026 masih dalam kondisi sehat meskipun rupiah terus melemah. Berbagai skenario sudah disiapkan sejak awal tahun.

Asumsi makro APBN 2026 menetapkan nilai tukar rupiah di kisaran Rp15.900 hingga Rp16.500 per dolar AS. Namun lonjakan hingga Rp17.800 ternyata masih bisa diantisipasi.

Ini karena pemerintah menerapkan kebijakan fiskal yang prudent. Belanja negara dievaluasi secara berkala, dan subsidi energi diberikan secara tepat sasaran.

Pemerintah juga terus mendorong realisasi investasi dan ekspor untuk menambah pasokan valuta asing. Langkah ini diharapkan bisa menstabilkan nilai tukar dalam jangka menengah.

Masyarakat diimbau untuk tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus berkoordinasi menjaga stabilitas ekonomi.

Hindari aksi borong barang yang bisa memicu inflasi. Cukup lakukan transaksi seperti biasa dan bijak dalam mengelola keuangan.

0 Komentar