Sensasi serupa tapi tak sama dirasakan oleh Mohammad Ghorbani. Bagi Ghorbani, ini adalah Piala Dunia pertama dalam kariernya—sebuah momen yang harusnya dirayakan dengan suka cita, kini berubah menjadi penuh beban emosional.
“Memang benar bahwa kami sedang menghadapi kondisi khusus saat ini, tetapi kami adalah pemain sepak bola dan kita harus bermain, berlatih, dan mempersiapkan diri untuk kompetisi yang akan datang,” kata Ghorbani.
“Di sisi lain, kami tahu bahwa rakyat kami telah mengalami banyak kesulitan selama perang, dan kami pergi ke sana untuk mereka, untuk mendapatkan hasil terbaik demi kebahagiaan mereka dan kebahagiaan rakyat negara kami,” tambahnya dengan nada emosional.
Baca Juga:Tanpa Bang Jay, Ini Prediksi Skuad Timnas Indonesia Racikan John Herdman vs Oman di FIFA MatchdayAntrean Tembus 1,2 Juta! War Tiket Konser BTS di Malaysia & Singapura Bikin ARMY Elus Dada, Jakarta Siap-Siap!
Berharap Tuah Diaspora di California
Meski didera berbagai rintangan tak kasat mata, secercah harapan masih dimiliki oleh anak asuh Team Melli. Iran dijadwalkan akan memainkan dua pertandingan fase grup mereka di wilayah California. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat komunitas diaspora (warga perantauan) Iran terbesar di dunia.
Kehadiran para imigran dan warga keturunan Iran di tribun penonton diharapkan bisa menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi para pemain yang sedang terluka secara psikologis.
“Tentu saja kami berharap akan ada banyak penggemar selama pertandingan kami di stadion. Dan ini akan menjadi tekanan besar bagi kami karena ekspektasinya akan tinggi. Saya hanya berharap kami dapat membuat mereka bangga dan menunjukkan kepada mereka bahwa orang Iran siap untuk setiap pekerjaan berat di dunia,” tutup Ezatolahi dengan optimis.
