RADARCIREBON.TV – Insiden tragis terjadi di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7/2026). Seorang pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat bernama Nicholas F. Goselin tewas ditembak setelah pesawat yang dikemudikannya mendarat di Lapangan Terbang Ipdeheik, Kampung Balinggama.
Pesawat jenis Pilatus PK-RCY milik PT Associated Mission Aviation (AMA) itu berangkat dari Bandara Wamena pada pukul 06.27 WIT dengan membawa satu pilot dan tujuh penumpang yang seluruhnya merupakan warga asli Papua. Pesawat dilaporkan mendarat dengan selamat di Balinggama pada pukul 06.46 WIT.
Namun, sesaat setelah mendarat dan menurunkan muatan, sekelompok orang bersenjata menyerbu dan membakar pesawat hingga hangus. Komunikasi dengan pilot terputus setelah ia melaporkan pendaratan berhasil. Laporan darurat baru diterima otoritas bandara di Wamena tiga jam kemudian, pada pukul 09.39 WIT.
Baca Juga:Penyebab Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung BulusaraungBegini Kronologi Pesawat Wakil Presiden Malawi yang Jatuh, Semua Penumpang Ditemukan Tewas
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) melalui Juru Bicara Sebby Sambom mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan pilot dan pembakaran pesawat. Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, menyatakan penembakan dilakukan atas perintahnya karena pesawat tersebut diduga sering mengangkut personel dan logistik militer Indonesia. Mereka mengklaim telah mengeluarkan ultimatum larangan penerbangan sipil di wilayah operasi mereka.
Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri menyatakan turut berduka dan terus berkomunikasi dengan pihak berwenang Indonesia serta keluarga korban. Tidak ada prioritas yang lebih tinggi daripada keselamatan dan keamanan warga Amerika, demikian pernyataan resmi mereka.
Koops TNI Habema berhasil mengevakuasi jenazah Goselin pada Jumat (3/7) menggunakan tiga helikopter dan 10 personel. Wakil Panglima Koops TNI Habema, Brigjen Riyanto, menyampaikan duka cita mendalam dan memastikan aparat masih melakukan penyisiran dan pengejaran terhadap pelaku. Ketujuh penumpang pesawat dilaporkan selamat dan dalam kondisi aman.
Insiden ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah Indonesia dan dunia penerbangan di Papua. Wilayah pegunungan tengah Papua memang kerap menjadi lokasi konflik antara aparat keamanan dan kelompok separatis. Penerbangan sipil di daerah terpencil sering menjadi sasaran karena dianggap membawa pasokan untuk militer.
Sebelumnya pada Februari 2023, peristiwa serupa terjadi ketika pilot asal Selandia Baru, Phillip Mehrtens, diculik oleh kelompok separatis di Nduga setelah mendaratkan pesawat komersial kecil. Ia baru dibebaskan pada September 2024 setelah menjalani penahanan selama lebih dari satu tahun.
