“Beberapa ahli sepak bola dan analis spesialis, baik secara lokal maupun internasional, telah menyoroti insiden insiden yang kontroversial dan berpengaruh dalam pertandingan. Ini menandai pentingnya menjaga tingkat integritas, keadilan, dan transparansi dalam pengadilan permainan, terutama di pertandingan Piala Dunia 2026,” tambah mereka.
Lantas, mungkinkah terjadi rematch atau tanding ulang antara Mesir vs Argentina?
Apakah Mungkin Rematch Mesir vs Argentina di Piala Dunia 2026?
Mungkinkah ada rematch Mesir vs Argentina? Jawabannya tidak. FIFA memiliki batasan ketat dalam membedakan kesalahan teknis aturan (technical error) dan kemungkinan kesalahan pengamatan manusia (human error). Dalam kasus terdahulu, FIFA memang pernah mengabulkan tanding ulang. Namun, hanya jika terjadi kesalahan fatal wasit dalam menerapkan pasal tertulis atau adanya bukti skandal kriminal.
Baca Juga:Hyundai Inoiq 3 Siap Debut di GIIAS 2026, Yuk Intip Bocoran Spesifikasinya!Prediksi Pertandingan Spanyol vs Belgia Piala Dunia 2026: Jaga Rekor Nirbobol demi Tiket Semifinal
Sebagai contoh, dalam kasus Uzbekistan vs Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia 2006 yang terjadi pada September 2005. Ketika itu, wasit salah menerapkan aturan hukum tertulis, yang terkategorikan sebagai technical error. Wasit Toshimitsu Yoshida membatalkan gol penalti Uzbekistan, tidak meminta penalti diulang sesuai aturan resmi, tetapi justru menghadiahkan tendangan bebas untuk Bahrain. FIFA membatalkan hasil laga tersebut, dan memerintahkan laga untuk diulang.
Kejadian lain adalah Afrika Selatan vs Senegal pada November 2016 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2018. Wasit memberikan penalti kepada Afrika Selatan setelah bola mengenai lutut bek Senegal. Laga ini diulang karena investigasi FIFA menemukan bukti kuat bahwa sang wasit sengaja memanipulasi hasil pertandingan demi sindikat judi.
Namun, FIFA tidak pernah mengulang laga jika kontroversi tersebut lahir dari kesalahan pengamatan atau perbedaan interpretasi wasit di lapangan. Contohnya adalah laga Prancis vs Republik Irlandia pada November 2009 untuk playoff Kualifikasi Piala Dunia 2010. Saat itu, Thierry Henry menggunakan tangan (handball) sebelum mengumpan untuk gol penentu lolosnya Les Bleus. Walaupun Irlandia mengajukan protes, FIFA menolak tanding ulang. Pasalnya, keputusan wasit di lapangan soal fakta pertandingan adalah final.
Dalam kasus Jerman vs Inggris di Piala Dunia 2010, tendangan Frank Lampard sudah masuk gawang, lalu bola memantul keluar. Wasit tidak mengesahkan tendangan itu jadi gol. FIFA tidak mengulang laga tersebut karena yang terjadi adalah murni kesalahan pengamatan manusia. Dari sinilah lahir teknologi garis gawang.
