RADARCIREBON.TV – Generasi Z kini tengah menggebrak dengan tren pola makan yang berbeda. Jika dahulu junk food seperti burger dan kentang goreng menjadi primadona, kini anak muda berbondong-bondong beralih ke pilihan makanan lebih sehat dan alami. Pergeseran ini bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan gerakan kesadaran akan pentingnya kesehatan jangka panjang yang didorong oleh media sosial dan berbagai pihak.
Sarapan Rebusan dan Kukusan: Tren Viral yang Disukai Menkes
Fenomena paling terlihat adalah viralnya menu sarapan berbasis rebusan dan kukusan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku senang melihat jutaan konten sarapan sehat ini berseliweran di media sosial, terutama TikTok. Beliau menilai tren ini sangat positif karena mampu mendorong perubahan kebiasaan jajan dari makanan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi konsumsi makanan utuh yang lebih bergizi.
Menu sarapan berbasis rebusan atau kukusan menjadi pilihan lebih sehat karena metode memasak ini menghindari penggunaan minyak berlebih. Kalori lebih terkontrol dan nutrisi alami dari bahan makanan dapat dipertahankan dengan baik. Makanan seperti ubi rebus, jagung manis, singkong, telur rebus, hingga pisang kukus menjadi pilihan favorit karena selain sehat, harganya juga sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 saja.
Baca Juga:3 Bahaya Jam Tidur Berantakan yang Bisa Mengancam KesehatanGaya Hidup Sehat 2026: Tren Keren yang Bisa Kamu Tiru Tanpa Ribet!
Kembalinya Makanan Jadul sebagai Camilan Kekinian
Fenomena ini juga menandai kembalinya popularitas makanan rebusan yang dulu dianggap kampungan. Kini, camilan seperti edamame, kacang rebus, dan singkong rebus naik kelas menjadi pilihan camilan sehat yang modern dan kekinian. Generasi muda menunjukkan kepedulian lebih tinggi terhadap kandungan nutrisi, sehingga mereka beralih dari makanan ultra-proses ke makanan lebih alami dan minim proses.
Faktor nostalgia turut berperan. Bagi generasi milenial dan Gen Z, camilan rebusan membawa rasa nostalgia masa kecil, namun kini dikemas ulang secara modern dan estetik, cocok untuk dipromosikan di media sosial. Banyak UMKM mulai mengolah makanan rebusan menjadi produk lebih praktis dengan kemasan premium dan higienis.
Fibermaxxing: Serat sebagai Protein Baru
Jika tahun lalu dikenal sebagai tahunnya protein, maka tahun ini adalah era kebangkitan serat. Fenomena ini punya nama keren, yaitu fibermaxxing. Sekitar 60 persen konsumen Gen Z di seluruh dunia menunjukkan ketertarikan pada makanan dan minuman dengan kandungan serat tinggi. Dorongan utamanya adalah meningkatnya minat terhadap kesehatan usus dan popularitas obat penurun berat badan yang memengaruhi rasa kenyang.
