3. Realisasi Investasi Semester I 2026 Tembus Rp1.010 Triliun
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini sudah mencapai 49,5 persen dari target tahunan Rp2.041,3 triliun .
Rinciannya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp502,9 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun . Investasi tersebut mampu menyerap 1,4 juta tenaga kerja, tumbuh 15 persen secara tahunan .
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa realisasi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia tetap kuat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri .
Baca Juga:5 Kesalahan Skincare yang Sering Dilakukan Pria, Bikin Kulit Malah Makin Rusak!Asian Games 2026: Atlet Indonesia Akan Tinggal di Kapal Pesiar dan Kontainer, Ini Alasannya
4. Inflasi AS Turun ke 3,5 Persen, Lebih Rendah dari Ekspektasi
Dari sisi eksternal, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi katalis positif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Inflasi tahunan AS turun ke level 3,5 persen pada Juni 2026, lebih rendah dari konsensus pasar yang memperkirakan 3,8 persen .
Penurunan ini didorong oleh merosotnya harga energi, dengan indeks energi turun 5,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya . Bahkan, harga bensin dan minyak bahan bakar masing-masing turun lebih dari 9 persen selama Juni .
Inflasi inti (core inflation) yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga tercatat stagnan secara bulanan dan secara tahunan berada di level 2,6 persen, lebih rendah dari perkiraan pasar 2,9 persen .
Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan ini disambut positif oleh pasar keuangan global dan memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan kebijakan moneternya ke depan .
5. Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak
Di sisi lain, eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut mempengaruhi pergerakan pasar. Militer AS meluncurkan serangan udara yang menargetkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada 19 Juli 2026, setelah dua tentara AS meninggal di Yordania .
Serangan balasan dari Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk mendorong harga minyak dunia Brent kembali mendekati level US$90 per barel . Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan menambah volatilitas di pasar keuangan .
