IHSG dan Rupiah Kompak Menguat Pekan Lalu, Ini 5 Sentimen Pendorongnya

Grafik pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang pekan 13-17 Juli 2026
IHSG dan rupiah kompak menguat sepanjang pekan 13-17 Juli 2026, didorong oleh afirmasi rating Indonesia oleh S&P dan data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. (Google Finance)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kabar baik datang dari pasar keuangan Tanah Air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kompak menguat sepanjang pekan lalu, tepatnya pada 13-17 Juli 2026. IHSG bahkan berhasil ditutup dengan kenaikan signifikan hingga 4,24 persen ke level 6.175,53 .

Tak cuma itu, rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga meroket 36,25 persen menjadi Rp13,99 triliun, sementara rata-rata volume transaksi harian naik 27,75 persen menjadi 26,17 miliar lembar saham . Kapitalisasi pasar bursa pun ikut terdongkrak 3,95 persen menjadi Rp10.749 triliun .

Di sisi nilai tukar, rupiah berhasil menguat 0,89 persen ke posisi Rp17.885 per dolar AS pada Jumat (17/7), menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia sepanjang pekan tersebut .

Apa saja sentimen yang mendorong penguatan ini? Berikut 5 faktor utamanya!

Baca Juga:5 Kesalahan Skincare yang Sering Dilakukan Pria, Bikin Kulit Malah Makin Rusak!Asian Games 2026: Atlet Indonesia Akan Tinggal di Kapal Pesiar dan Kontainer, Ini Alasannya

1. S&P Global Ratings Pertahankan Peringkat Utang Indonesia di Level BBB

Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mengafirmasi peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil .

Keputusan ini menegaskan posisi Indonesia tetap dalam kategori investment grade atau layak investasi, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. S&P menilai pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal Indonesia saat ini bersifat sementara dan bukan struktural .

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyambut positif keputusan ini. Menurutnya, afirmasi tersebut mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor dan pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia .

S&P juga memproyeksikan perekonomian Indonesia akan tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan proyeksi pertumbuhan riil 5,1 persen pada 2026 .

2. BEI Tambah 37 Saham Baru ke Daftar Pengawasan High Shareholding Concentration

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan menambahkan 37 saham baru ke dalam daftar pengawasan High Shareholding Concentration (HSC), sehingga totalnya kini menjadi 51 emiten .

Langkah ini diambil setelah BEI merevisi metodologi penentuan status HSC dengan menambahkan kriteria baru yaitu price-impact ratio. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan melindungi investor dari potensi volatilitas harga yang tidak wajar .

0 Komentar