RADARCIREBON.TV – Kabar menggembirakan datang dari pasar keuangan Tanah Air. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran dana asing (capital inflow) ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp 195 triliun atau setara US$ 10 miliar selama periode Januari hingga Juni 2026 .
Pejabat sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa masuknya dana asing ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Untuk nilai tukar saat ini dibutuhkan masuknya inflow dari asing,” ujar Destry saat pemaparan online di Parapat, Sumatera Utara, Jumat (31/7/2026) .
Destry menjelaskan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 menjadi pendorong utama masuknya dana asing. Kenaikan ini dilakukan secara bertahap: 50 bps pada 20 Mei 2026, 25 bps pada 9 Juni 2026, dan 25 bps pada 18 Juni 2026, sehingga BI Rate mencapai 5,75 persen .
Baca Juga:3 Fakta Menarik Kemenangan 3-0 Timnas atas Timor Leste: Gol Baru Pecah di Menit 74, Baker Tampil Kurang TajamPurbaya Tegaskan Tak Akan Naikkan Tarif Pajak, Tapi Kejar Kebocoran demi Tambah 24% Pendapatan
“Alhamdulillah kami menaikkan 100 basis poin atau 1 persen sejak akhir bulan Mei. Maka terjadi repricing atau penyesuaian aset domestik kita SBN dan SRBI. Sehingga per minggu ini, awal minggu ini kita sudah melihat inflow sebesar SBN dan SRBI sebesar Rp 195 triliun, dan itu nilainya US$ 10 miliar,” kata Destry .
Aliran Dana Asing: Penting untuk Cadangan Devisa dan Likuiditas
Destry menuturkan, aliran dana asing yang masuk dalam jumlah besar ini sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menambah likuiditas di pasar. Dengan demikian, stabilitas rupiah diharapkan dapat lebih terjaga. “Kita berharap ekonomi dan rupiah kita akan manage lebih stabil,” ujar dia .
BI Tahan BI Rate di 5,75%: Inflasi Pangan Jadi Perhatian
Meskipun telah menaikkan suku bunga secara agresif, BI memilih untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada RDG Juli 2026. Destry menjelaskan, keputusan ini diambil karena masih adanya ketidakstabilan global yang tinggi .
“RDG Juli tetap pertahankan BI Rate 5,75% karena kita masih melihat ada ketidakstabilan sehingga mempengaruhi kestabilan terutama aset pricing, aset Indonesia seperti SRBI dan yield. Ini yang kami coba BI Rate tetap 5,75%,” kata dia .
