RADARCIREBON.TV – PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) kembali mencatatkan kinerja moncer di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Laba bersih setelah pajak pada kuartal II-2026 mencapai Rp 130 miliar, tumbuh 14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 114 miliar .
Plt. Direktur Utama Allo Bank, Ari Yanuanto Asah, mengungkapkan pertumbuhan laba ini ditopang oleh peningkatan pendapatan operasional sebesar 21 persen yoy menjadi Rp 533 miliar, yang berasal dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis biaya .
Pendapatan bunga bersih perbankan tercatat tumbuh 10 persen yoy menjadi Rp 393 miliar, sementara pendapatan berbasis biaya melonjak 71 persen yoy menjadi Rp 140 miliar. Kondisi ini didukung oleh penyaluran pinjaman yang tetap tumbuh di tengah kondisi makroekonomi yang menantang .
Baca Juga:BP PHK 700 Karyawan Global Demi Kejar Untung, Fokus ke Minyak dan Gas Lagi!Cara Nonton Persib vs Tampines Rovers Malam Ini: Live di Indosiar dan Vidio!
NIM Meningkat, Kredit dan Aset Tumbuh Signifikan
Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) pada periode tersebut juga tercatat meningkat menjadi 10,9 persen, naik dari 10,4 persen pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencerminkan manajemen aset dan liabilitas yang efektif, terutama di segmen Perbankan Ritel .
“Secara keseluruhan, laba bersih Allo Bank mencapai Rp 234 miliar pada semester pertama tahun 2026,” kata Ari Yanuanto dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026) .
Dari fungsi intermediasi, bank menunjukkan momentum yang baik dengan kredit yang disalurkan tumbuh 28 persen yoy menjadi Rp 9,547 triliun pada akhir 30 Juni 2026, didorong oleh pertumbuhan di segmen Perbankan Ritel dan Perbankan Wholesale .
“Dengan demikian, total aset Allo Bank naik 10 persen yoy dan mencapai Rp 15,571 triliun, naik dari Rp 14,173 triliun pada periode yang sama tahun lalu,” paparnya .
Kualitas Aset Terjaga, Rasio NPL Tetap Terkendali
Di tengah pertumbuhan berkelanjutan, Allo Bank terus menunjukkan disiplin dengan mengawasi kualitas aset dan stabilitas kondisi keuangan. Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross dan NPL Net masing-masing berada pada level yang terkendali sebesar 1,73 persen dan 0,73 persen .
Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap stabil sebesar Rp 5,826 triliun .
“Selama tahun 2026, kami akan mendorong pertumbuhan bisnis dengan meningkatkan pengalaman pengguna melalui inovasi teknologi sehingga nasabah akan mampu melakukan personalisasi untuk mendapatkan nilai tambah sesuai dengan kebutuhan nasabah,” tegas Ari Yanuanto .
