RADARCIREBON.TV – Di era media sosial, istilah self-improvement atau pengembangan diri seolah menjadi kewajiban moral. Rutinitas pagi yang ketat, target produktivitas harian, hingga berbagai kursus online diikuti demi menjadi “versi terbaik diri”.
Tujuannya tentu positif: kita ingin terus berkembang. Namun, pernahkah Anda merasa lelah karena terus berpikir harus menjadi lebih baik setiap hari? Jika iya, Anda mungkin mengalami apa yang disebut para psikolog sebagai “self-help fatigue” atau kelelahan akibat obsesi perbaikan diri .
Pengembangan Diri yang Berubah Menjadi Tekanan
Pada dasarnya, self-improvement bertujuan membantu kita mengembangkan potensi diri, baik dalam karier, pendidikan, maupun kehidupan pribadi . Namun, budaya yang tercipta untuk terus mengoptimalkan diri justru membuat banyak orang merasa tidak pernah cukup .
Baca Juga:Mengenal Digital Lifestyle: Gaya Hidup Modern yang Mengubah Cara Belajar, Bekerja, dan BeraktivitasContoh Digital Lifestyle yang Kini Jadi Kebiasaan Sehari-hari di Era Teknologi
Mereka terdorong untuk terus produktif, membandingkan pencapaian dengan orang lain, hingga muncul perasaan bersalah saat beristirahat. Akibatnya, proses yang seharusnya membawa semangat justru memicu stres, kelelahan, bahkan membuat seseorang sulit menghargai pencapaiannya sendiri .
Menurut psikolog Cass Dunn, kita perlu mewaspadai “subtle aggression” atau agresi halus dari self-improvement. “Jika Anda sangat serius memperbaiki diri, mengikuti kursus, membaca buku, dan mendengarkan podcast—kapan semua itu berubah menjadi serangan terhadap diri sendiri?” ujarnya .
Tanda-tanda Obsesi Mulai Tidak Sehat
Psikoterapis Israa Nasir, penulis buku Toxic Productivity, mengidentifikasi tiga tanda bahwa produktivitas telah berubah menjadi racun :
- Pencapaian menggerakkan tujuan hidup Anda.Anda mengukur nilai diri dari seberapa banyak yang bisa diselesaikan.
- Mengorbankan kebutuhan hidup lain. Kesehatan, hubungan, dan waktu bersantai dikorbankan demi target.
- Harga diri terikat pada pencapaian. Anda hanya merasa berharga saat berprestasi.
Jika tanda-tanda ini terasa familiar, mungkin sudah saatnya berhenti sejenak.
Kunci: Self-Compassion dan Penerimaan Diri
Para ahli sepakat bahwa kunci untuk keluar dari jebakan ini adalah self-compassion atau sikap berwelas asih kepada diri sendiri . Penelitian menunjukkan bahwa self-compassion—kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, memahami bahwa penderitaan adalah bagian dari pengalaman manusia, dan menjaga kesadaran penuh—berperan penting dalam menjaga kesehatan mental .
