Pertemuan dan perubahan arus ini, urainya, dapat membentuk front, shear arus, dan pusaran. Selain itu juga perubahan arah dan kecepatan arus. “Yang semuanya dapat diamati dan diukur secara fisis melalui data arus, satelit, drifter, maupun pemodelan oseanografi,” tandas peraih Doktor Ilmu Geografi UGM ini.
Bukan Misteri, Tapi Dinamika Laut yang Kompleks
Jadi, tandasnya lagi, Segitiga Masalembo bukan misteri laut. Tetapi istilah populer untuk kawasan dengan dinamika laut-atmosfer yang kompleks dan dapat dijelaskan dengan sains.
Dijelaskannya, risiko bagi kapal di kawasan Masalembo terutama berasal dari kombinasi dinamika laut dan atmosfer, bukan karena adanya “zona misterius”. Pertemuan dan perubahan pola arus dapat menimbulkan arus silang (cross-current), set and drift, dan shear arus. Juga pusaran yang membuat kapal bergeser dari jalur yang direncanakan.
Baca Juga:Update KMP Virgo Transport 8 Tenggelam: 114 Penumpang Ditemukan, 108 Selamat dan 6 MeninggalUpdate Daftar 86 Penumpang Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Jika bersamaan dengan angin kencang, gelombang tinggi, hujan lebat, atau badai lokal, gerakan kapal dapat menjadi lebih berat. Visibilitas turun, dan kemampuan manuver berkurang. Risiko menjadi lebih besar pada kapal dengan stabilitas rendah, muatan tidak ideal, kecepatan terbatas, atau ketika nakhoda tidak mengoreksi pengaruh arus dan cuaca.
Kesimpulan
Jadi, tambahnya, arus Masalembo sendiri bukan otomatis penyebab kecelakaan. Bahaya muncul ketika kondisi oseanografi dan meteorologi berinteraksi dengan kondisi kapal serta keputusan navigasi. “Sehingga, meningkatkan risiko keluar jalur, kehilangan kendali, tubrukan, kandas, bahkan terbalik pada kondisi ekstrem,” begitu Daryono mengakhiri postingannya.
Dengan penjelasan ilmiah ini, masyarakat diharapkan tidak lagi mengaitkan perairan Masalembo dengan hal-hal mistis. Kawasan tersebut memang memiliki dinamika laut yang kompleks, tetapi semuanya dapat dijelaskan dengan sains dan dapat diantisipasi dengan persiapan navigasi yang matang.
