Kenaikan harga pakan bebek sepanjang 2026 dalam kondisi mengkhawatirkan. Di Kuningan, kondisi ini membuat sejumlah peternakan bebek petelur terancam gulung tikar, bahkan diantaranya terpaksa menutup usaha mereka.
Usaha ternak bebek petelur di Kuningan terimbas kenaikan harga pakan yang terus meroket, sejak Januari hingga Oktober 2026. Kenaikan ini membuat peternak menjerit terancam gulung tikar, bahkan diantaranya sudah berhenti beroperasi. Usaha bebek petelur ini diantaranya dikelola oleh BUMDes di pedesaan.
Jika kondisi ini dibiarkan, angka produksi telur bebek lokal diperkirakan akan terus merosot.
Baca Juga:Sampah Kabupaten Cirebon Capai 1.200 Ton Per Hari – VideoNasib PPPK Paruh Waktu Digantung – Video
Seperti yang dialami BUMDes Jagaraksa di Desa Karangmuncang Kecamatan Cigandamekar, lonjakan harga pakan dinilai terlalu signifikan, dari kisaran 345.000 rupiah pada Januari lalu, hingga 13 Oktober 2026 terus mengalami kenaikan menembus 430.000 rupiah untuk setiap karung 50 kilogram.
Kondisi ini diperparah dengan harga telur bebek yang terus merosot di level peternak. Pada Januari lalu tercatat peternak dapat menjual 2.400 rupiah perbutir, namun saat ini harga jual turun menjadi 2000 rupiah perbutir.
Untuk bertahan di segmen usaha ini, pengelola BUMDes mulai melakukan efisiensi ditengah tekanan. Mulai dari pengurangan tenaga kerja, hingga mengurangi populasi bebek dari semula 700 ekor menjadi 400 ekor. Dampaknya produksi telur anjlok dari semula 500 butir, menjadi 170 butir setiap hari.
Direktur BUMDes Jagaraksa Hermawan berharap peran pemerintah dapat mencari solusi terkait keterjangkauan harga pakan. Aspirasi ini juga tak hanya disuarakan untuk jajaran eksekutif, pihaknya juga berencana menyampaikan kondisi ini ke legislatif atau kepada pimpinan DPRD Kabupaten Kuningan.